Skip to main content

Menonton "Merry Riana"

Terlepas dari segala hal ceroboh dalam film ini, seperti iPhone 6 yang bisa tampil dalam film bersetting tahun 1999-2000an; searching di google yang terbaca tahun 2012, hingga akting Chelsea Islan -pemeran Merry Riana- yang terlalu heboh lari kanan kiri di jembatan Cavenagh : film ini lebih terkesan sebagai film romantis, drama penguras air mata.

Jejak sebagai film yang dibangun dari buku kisah nyata untuk membangun motivasi serta semangat, hampir tak terlihat jelas.  Ini seperti sinetron di tivi-tivi Indonesia.  Entahlah, mungkin karena tuntutan produsernya.

Sebagai pembaca semua buku Merry Riana, dari semula saya sudah skeptis ketika istri saya mengajak menonton filmnya.  Sebagaimana "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" dan "Laskar Pelangi" imajinasi yang terbangun saat membaca novelnya, tak terbayar sama sekali oleh filmnya.  Cukup kecewa.  Saya tadinya berharap film ini lebih banyak bercerita soal perjuangan yang memotivasi, serta semangat yang patut diteladani.  Heroisme bertahan hidup, mengejar impian pantang menyerah.  Tapi sudahlah.
Bagi yang belum membaca buku Merry Riana, atau kurang suka hal terkait kredo "kejarlah impian dengan kerja keras" bolehlah menonton film ini untuk mendapatkan beberapa bulir air mata.

Perjuangan Merry Riana, memang barangkali tidak cocok ditampilkan apa adanya dalam film komersiil seperti ini.  Lingkungan kita, eh maksudku : lingkungan saya, masih banyak anggapan "bekerja keras mengejar mimpi" adalah dogma untuk agen asuransi atau pelaku bisnis MLM belaka.  Sering saya dengar hal semacam "buat apa kaya, kaya tak menjamin bahagia", atau "cukuplah hidupku seperti ini, biar miskin asal bahagia", kadang "ngapain mengejar impian, seperti orang gila saja, hidup itu mengalir saja".   Sebagian karena putus asa, sebagian karena tak mau kehilangan zona nyamannya, sebagian karena memang tak tahu mau berbuat lagi apa.   Ya, tentu itu sah-sah saja.

Tapi bukankah itu yang membuat bangsa ini nyaman dengan segala ketertinggalannya.  Bangsa yang penduduknya terbesar ke empat di dunia tapi tak bisa menang main sepakbola melawan negera berpenduduk sepersepuluhnya.  Bangsa yang kabarnya punya banyak stok minyak di bawah tanahnya, tapi mengimpor dari negara -yang bahkan- tak punya sumur minyak di wilayahnya.  Bangsa yang menyumbangkan bibit duren ke negara tetangga, tapi limapuluh tahun kemudian membayar Rp 20 Trilyun hanya untuk impor durian, bahkan mungkin lebih juga untuk beras dan cabe. 

Merry Riana adalah contoh kecil dan sederhana saja.  Dia eksil, minoritas di negeri kelahirannya, terbuang ke negara tetangga dan dipaksa "berjuang" untuk sekedar bertahan.  Tapi tak hanya bisa bertahan, tapi sukses.  Melampaui mayoritas orang di negerinya yang terbuai tongkat ditanam jadi tanaman.  Merry Riana orang Indonesia, "cuma" agen asuransi di Singapura.  Profesi yang memakai embel-embel "cuma" di negeri asalnya.  Pekerjaan sepele yang segala targetnya dibangun oleh satu kata "impian".

Tapi, profesi "cuma" ini sudah membawa dia ke level yang jauh tinggi di antara orang-orang sebangsanya.   Level sukses yang bukan lagi bicara pendapatan, uang dan barang.  Levelnya sudah pada tahap "memberi harapan" pada orang di sekelilingnya.  Dia tak pelit membagi kebisaannya, membangun orang menjadi manusia yang berdaya : di saat banyak orang di negerinya -para mayoritas- masih berfikir hanya berkisar di urusan perutnya sendiri saja.

Tentu, saya tak akan menyalahkan anda bila bergumam,"pantaslah anda menulis dengan nada serupa ini, karena anda juga agen asuransi".  Biarlah, karena memang itu kenyataannya.  Tapi, penting juga untuk diketahui bahwa saya sangat terinpirasi oleh Merry Riana, bisnisnya dan sepak terjangnya.  Di BHR Agency -agency Financial Consultant  yang saya kelola bersama istri - setiap minggu datang delapan sepuluh orang yang tadinya tak mengerti apa-apa tetapi kemudian belajar bersama kami serta berakhir menjadi manusia-manusia yang berdaya.  Bermodal impian.

Maka, saya setuju saja sebuah kutipan dari Film Merry Riana bahwa "Hidup tak cuma soal perhitungan dan perjuangan, hidup itu sesuatu yang harus diselesaikan".  Dia tak cuma menghitung berapa duit masuk ke kantong kita, seberapa banyak makanan yang bisa mengenyangkan perut kita serta seberapa kilap mobil yang ada di garasi kita.  Jauh di atas itu, Hidup itu soal memberi peluang dan harapan untuk orang lain.

Sedemikian sederhana.

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...