Skip to main content

Cerita Satu Setengah Tahun ...

Bukan, bukan karena sudah merasa hidupnya paling enak lalu saya menulis notes ini. Sama sekali bukan. Justru karena hidup saya sudah kenyang babak belur dihajar aneka cobaan, kegagalan maka saya bisa nulis notes ini. Boleh percaya boleh enggak.
 
Hari ini, 1 Desember 2015 adalah tepat setahun setengah BHR Agency, agency yang saya miliki serta kelola (bersama Driffaroza Ocha, istri saya) beroperasi. Kemarin, kami merayakan “tutup buku” ala AIA dengan mencatat omzet Rp 4,3 Miliar atau nyaris 3 kali lipat omzet yang kami bukukan tahun 2014 lalu. Keren? nggak juga, karena banyak agency AIA lain yang jauh lebih hebat. Minder? walah bro...nggak akan, justru kami merasa musti lebih baik dan lebih baik lagi.
 
Tahun 2002 sekeluar dari TEMPO, saya merintis bisnis ternak bebek petelor dan gagal. Lalu “coba-coba” menjadi distributor nata de coco dan membuat tabloid sendiri. Karena bisnisnya coba-coba, maka hasilnya juga coba-coba...alias gagal juga. Balik lagi ke dunia kerja hanya tahan 1,5 tahun, padahal posisi dan fasilitas super keren. Kenapa? Ya namanya kerja sama orang, walau gaji plus fasilitas bagus tetap saja harus siap dibeli waktu dari hidup kita. 
 
Tahun 2006 adalah tahun dimulainya marathon “penderitaan” yang panjang. Hidup serba kekurangan, sisa hutang masih banyak, penghasilan tak tetap dan punya usaha tapi sama sekali belum kelihatan bakal maju apa enggak. Bayangkan, biasa di kantor semua “anak buah” hormat, ini tiba-tiba musti tiap sore ke pasar becek beli timun dan selada buat dagang burger (pakai motor butut pula). Begitu ketemu mantan anak buah, ya pasrah...jalani saja, mosok mau gengsi. Gengsi nggak bisa dimasak jadi semur atau rawon sih... Kira-kira waktu itu saya cuma mikir, kalau ini saya tekuni, total (nggak coba-coba), maka usaha ini juga bakalan gede. Itu saja. Sama sekali tak terfikir, sekarang MISTERBLEK yang saya rintis tahun-tahun itu, kini sudah ada 200-an outlet di seluruh Indonesia. Enak? ya sekarang sih enak, dulu sih pahit juga. Dulu jangankan mikir buat jalan-jalan ke luar negeri, buat makan saja pas-pasan. Tapi, kalau dulu saya putuskan nyerah, ya rasa enak itu nggak bakalan terasa sekarang.
 
Kembali ke setahun BHR. Sudah banyak yang saya alami juga. Ditolak sering, diremehkan orang ya nggak kalah banyak kejadian. Tapi, karena sudah pengalaman babak belur, ya saya cuma bisa yakin : semua rasa sakit pasti kebayar.
 
Tapi dari perjalanan setahun itu, saya melihat ada beberapa karakter manusia yang sempat bergabung di BHR. Ini ngomongin orang dikit ya, buat bahan kita balajar juga.
 
1. Model orang yang Punya Impian Jelas dan Konsisten Menggapainya.
 
Mereka umumnya datang tak ngerti apa-apa, mau sungguh-sungguh belajar dan nurut (dan mau praktekin) setiap kali kita kasih tips di kelas pelatihan maupun saat pertemuan “one on one”. Ciri khas mereka adalah disiplin, tepat waktu saat “meeting”. Mereka suka “stress” kalau melihat ada teman yang menyalip targetnya, dan terpacu untuk lebih baik. Tipe ini tidak suka diperintah-perintah, mereka lebih suka dibimbing : karena pada dasarnya mereka sudah tahu apa yang ingin mereka raih, hanya -kadang- belum tahu caranya. Tipe ini lebih terbuka, sadar prestasi (cirinya : lebih narsis), yakin dengan pilihannya serta mau mengambil resiko yang terukur. Kenapa? Ya, karena apa yang ingin dia raih jelas maka sedikit resiko juga tak menjadi persoalan besar.
 
2. Model orang yang Punya Impian Jelas tapi tidak tangguh menggapainya.
 
Ada dua kutub asal mereka hadir: Kutub pertama karena hidupnya sudah terlalu nyaman dan ketub kedua yang hidupnya terlalu banyak masalah.
Kutub pertama tidak sepenuhnya dimonopoli oleh mereka yang hidupnya sudah berkecukupan secara materi. Ada orang-orang yang sebenarnya hidupnya serba berkekurangan, tapi karena sudah sangat biasa dengan kekurangan (mis : hutang banyak, rumah ngontrak dll) merasa bahwa kekurangan itu sesuatu yang harus dinikmati saja, tak perlu diperjuangkan perbaikannya. Biar miskin asal bahagia, itu slogan mereka. Tipe ini cenderung sulit untuk “dibongkar” mindset-nya.
 
Kebalikan dengan kutub ini adalah mereka yang hidupnya terlanjur sangat nyaman, karena misalnya, suami atau istrinya memang kaya, gajinya besar. Mereka memliki keyakinan saat ini sudah enak, maka sudah pasti hari esok pasti juga enak. Ngapain berjuang, mengejar impian kalau semuanya sudah ada hari ini. Tipe nyaman seperti ini juga agak sulit dibongkar “mindset” nya, kecuali pas setelah kena (sedikit) musibah, kesusahan... pasti mereka baru mikir.
 
Kutub kedua adalah mereka-mereka yang memang hidupnya terlalu banyak masalah. Saya pelajari, tipe ini cenderung menghindari (dari menghadapi) penyelesaian masalah, mereka lebih banyak “lari dari masalah”. Contoh sederhana, dilihat dari cara mereka menyelesaikan hutang, mereka cenderung menghindar, menghilang atau gali lobang tutup lobang. Tipe ini cenderung pantas dikasihani, diberi jalan agar terbebas dari masalahnya. Tapi mereka menganggap (strategi) penyelesaian yang kita berikan adalah tambahan masalah, karena buat tipe ini : menyelesaikan sebuah masalah adalah masalah baru lagi. Menjadi “misterius” adalah solusi sehingga jarang aktivitas mereka kita bisa jumpai di medsos. Sehingga, masalah mereka tak pernah selesai. Ada dan ada terus.
 
3. Tipe yang Impiannya tak jelas. Karena hidupnya tak jelas apa yang ingin diraih, maka segala aktivitasnya juga cenderung tak terarah. Karakter ini -umumnya- saya jumpai pada mereka yang sampai usianya menjelang 30 tahun (atau bahkan lebih !) belum menikah serta masih “numpang hidup” pada orang tuanya. Jangankan merantau, untuk membuat terobosan saja cenderung tak berani. Tipe ini cenderung memiliki wawasan terbatas, tak suka hal baru, mapan alias nyaman serta cenderung anti TARGET. Tipe ini melihat, bahwa bila orang lain sukses itu salah, orang bisa kaya itu nggak bener, orang menampilkan prestasi di medsos adalah pamer dan “show off” : apalagi bila orang yang sukses itu dikenalnya. Mereka cenderung sensitif, suka (sok) misterius, karena tak ingin diberi “feedback” atas aktivitas yang dijalaninya, plus cenderung menganggap “mentor” sebagai “kompetitor”.
 
Umumnya tipe no 2 dan no 3 cenderung lebih banyak mengalami kegagalan, karena pada dasarnya dari awal mereka sudah gagal meyakinkan diri mereka diri sendiri bahwa apa yang mereka lakukan akan membuat hidup mereka lebih baik. Lha, kalau meyakinkan diri sendiri saja gagal, bagaimana mau meyakinkan orang lain. Banyak teman-teman kuliah atau kerja saya yang dulu jagoan banget di sales dan marketing, mengalami gagal (total) saat membuka usahanya sendiri. Saya lihat, karena dulu mereka sangat yakin menjual produk-produk (dari perusahaan tempat mereka bekerja) sehingga klien percaya, namun sebaliknya saat memiliki usaha sendiri tak yakin (bahkan) dengan langkahnya membangun usaha sendiri itu. Sekali lagi, bagaimana mau meyakinkan orang lain, kalau meyakinkan diri sendiri saja sulit ?
 
Dalam perjalanan karir saya sejak tahun 1994, tiga tipe utama ini selalu saya jumpai. Dan dari mereka saya belajar. Belajar bahwa hidup itu semata soal MINDSET, soal POLA PIKIR dan SPIRITUALITAS (ada Tuhan yang menghargai setiap langkah kita). Saya dan anda ada dimana ?
 
Tahun 2016, harus lebih baik ! Bismillah !

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...