Skip to main content

Tips & Tricks : Bagaimana Menghadapi Telemarketing Asuransi

Kopi belum lagi tandas dari cangkir saat ponsel berdering, dan di layarnya tertera nomor 0811xxxxxx. Saya pikir teman atau mitra bisnis yang menelepon, saya jawab. Ternyata panggilan telepn itu dari telemarketing sebuah perusahaan asuransi yang menawarkan sebuah produk asuransi.
Pernah mengalami hal seperti itu ? Kebanyakan teman-teman yang menerima telepon seperti itu merasa kesal dan terganggu, wajar saja. Tapi jangan salah, belum tentu produk yang ditawarkan itu buruk atau tak bermanfaat. Terkadang karena emosi, kita menjadi tidak rasional menerima penawaran dari para telemarketer. Maka saya mau berbagi tips dan trik bagaimana menghadapi para telemarketer asuransi.
PERTAMA. Pastikan anda mengetahui Nilai Ekonomis diri anda sendiri terlebih dahulu. Sebenarnya saya sudah sering cerita soal nilai ekonomis ini, tapi tak apa saya ulang. Nilai Ekonomis adalah Nilai yang “harus disediakan” oleh para pencari nafkah (breadwinner) untuk keluarganya, agar pada saat dia tak lagi bisa mencari nafkah karena sebuah resiko tertentu (sakit, cacat tetap, pensiun atau meninggal dunia) maka keluarganya tetap bisa hidup layak sebagaimana saat para “breadwinner” ini “berfungsi normal” (maaf, bila istilah yang saya pakai agak kejam ya...). Katakan bila anda setiap bulan “setor” pada menteri keuangan di rumah Rp 10 juta per bulan untuk membiayai aneka rupa keperluan, maka tiap tahun perlu Rp 120 juta untuk itu. Saat para “breadwinner” ini tak bisa setor lagi kan Rp 120 juta itu tetap harus tersedia-because Life goes on...taela. Salah satu jalan keluar paling mudah adalah memiliki Deposito dengan bunga Rp 120 juta/tahun. Bila diasumsikan bunga deposito nett 5% per tahun, maka harus tersedia di rekening deposito (minimal) Rp 2,4 Miliar. Maka Rp 2,4 Miliar itulah yang disebut NILAI EKONOMIS. Nilai ekonomis tiap orang berbeda, tergantung “setorannya” tadi itu.
Persoalannya, apakah saldo di rekening deposito kita sudah -minimal- sama dengan nilai ekonomis kita? Bila belum, maka milikilah produk asuransi dengan UANG PERTANGGUNGAN (selanjutnya saya singkat : UP) sebesar itu. Mahal nggak premi asuransinya? Tergantung. makin muda usia , biasanya makin murah preminya. Mengetahui nilai ekonomis WAJIB sebelum kita melakukan perencanaan keuangan (membuka rekening tabungan, deposito, asuransi atau berinvestasi....entah itu di emas, property, saham, reksadana atau unitlink). Jangan sampai assetnya banyak tapi tidak likuid, sehingga nilai ekonomis tidak tercukupi. Atau tabungannya merasa banyak, tapi sebenarnya belum cukup untuk WARISAN. UP yang sesuai nilai ekonomis adalah sebenar-benarnya warisan.
Jadi saat telemarketer menawarkan produk asuransi, pertama tanyakan berapa UP yang akan kita dapat. Bukan premi yang harus dibayar. Bila kita belum memiliki Uang Pertanggungan yang cukup, mencicil UP adalah langkah yang bijaksana. Jangan mudah tertarik bila ditawari dengan janji pengembalian dana pada tahun ke sekian-sekian, sebelum UP kita benar-benar sudah sesuai nilai ekonomis kita. Jadi untuk yang Nilai Ekonomisnya belum terpenuhi fokuskan pada pemenuhan UP dulu, jangan mau dibelak-belokkan oleh penawaran para telemarketer ke investasi, pengembalian tunai atau janji pembayaran pendek dengan manfaat panjang.
Jangan sampai anda tergolong ke golongan orang-orang yang merasa telah memiliki banyak (sekali) polis asuransi, tapi Nilai Ekonomisnya tak ter-cover oleh asuransi-asuransi yang dimilikinya. Dan orang golongan itu...buuuuaaaanyak sekali di Indonesia.
KEDUA. Bila membeli Asuransi Kesehatan, pastikan itu memenuhi kebutuhan. Anda bekerja dan asuransi kesehatan di kantor belum memadai? Maka bila ditawari produk asuransi kesehatan pastikan produk itu memberi manfaat apa : (1) Penggantian biaya rumah sakit (Hospital and Surgical Benefit -HS) atau (2) Santunan tunai karena kita sakit (Hospital Income-HI) ? Umumnya untuk produk HS menganut prinsip koordinasi manfaat (bukan “double claim”) artinya bila kita memiliki/dicover dua asuransi kesehatan, asuransi kesehatan Kedua hanya menambah atau menutup kekurangan pembayaran klaim yang tidak bisa dicover oleh Asuransi Kesehatan Pertama.
Bila anda sudah memiliki asuransi kesehatan dari kantor atau pribadi dengan “coverage” yang mencukupi, saran saya milikilah produk HI. Produk HI akan memberikan “tambahan” berupa santunan tunai berdasarkan jumlah berapa hari kita dirawat di Rumah Sakit. Produk ini tidak menganut prinsip “koordinasi manfaat”. Jadi bisa “double klaim”. Maka, bila asuransi kesehatan yang anda miliki sudah cukup serta telemarketer memaksa anda membeli produk asuransi kesehatan HS, jangan gampang oke saja. Saran saya, tanyakan produk HI sebagai tambahan, yang memberikan SANTUNAN TUNAI saat kita sakit, bukan penggantian biaya rumah sakit.
KETIGA. Jangan gampang terbujuk penawaran bayar 5 tahun untuk masa asuransi 10 tahun. Sistem pembayaran asuransi -sebenarnya- berlaku tahun per tahun, karena biaya yang dibebankan pada nasabah sebenarnya tiap tahun berubah (karena resiko yang berubah terutama karena masalah umur). Jadi bila ada penawaran seperti itu, kemungkinannya ada dua : [Pertama] Premi yang dibayarkan memang sudah dihitung untuk 10 tahun, tapi diakumulasikan dalam 5 tahun pembayaran saja, artinya sebenarnya anda membayar normal, cuma tak berasa saja. [Kedua] Premi yang dibayarkan sebagian diinvestasikan, artinya produk yang ditawarkan sebenarnya produk Multiguna, gabungan antara Asuransi dan Investasi.
Khusus untuk penawaran Premi dengan pola Kedua atau produknya multiguna (atau nama generiknya : UNITLINK), yang harus dicermati adalah apakah ada jaminan NO LAPSE GUARANTEE (tanyakan saja pada telemarketingnya). Maksudnya, apakah ada jaminan asuransi akan terus berlaku/atau memberikan perlindungan saat instrumen investasi sedang jeblok? Bila tak ada no lapse guarantee, bisa jadi -misal- saat indeks harga saham jeblok, nilai investasi di rekening Unit Link kita ikut jeblok, premi asuransinya jadi tak bisa dibayar oleh nilai investasi kita. Itu yang dinamakan asuransi kita LAPSE. Maka penting untuk bertanya soal jaminan No Lapse Guarantee itu, jangan sampai kita sudah bayar namun ternyata saat dibutuhkan kita tak bisa menikmati manfaat asuransinya.
KEEMPAT. Bila ragu, jangan langsung memutuskan. Para telemarketing umumnya dilatih sebagai penjual, bukan konsultan. Sehingga biasanya mereka cenderung “memaksa” kita mengambil keputusan saat itu juga. Pastikan saat mereka menerangkan fitur produk, kita catat dan minta diulang bila ada hal yang kurang jelas. Bila anda merasa ada hal yang anda ragu, dan mereka tak bisa memberikan penjelasan yang gamblang, ada baiknya tunda pembicaraan. Konsultasikan ke penasehat keuangan keluarga anda dulu, sebelum memutuskan. Sampaikan bahwa anda harus berkonsultasi dulu, dan minta dikontak ulang dalam beberapa waktu mendatang. Ini akan bijaksana dilakukan ketimbang anda salah membuat keputusan.
KELIMA. Ketahui bahwa saat pembelian produk asuransi ada namanya FREE LOOK PERIOD. Ini adalah masa kita, sebagai klien, mempelajari isi polis dengan seksama. Bila ada hal yang tidak sesuai dengan penjelasan telemarketer atau tidak sesuai (bayangan) kebutuhan anda, dalam masa FREE LOOK itu kita bisa MEMBATALKAN polis, tanpa biaya apapun. Dan bila kita memutuskan membatalkan saat masa Free Look itu, maka tak ada kewajiban kita membayar apapun. Masa Free Look umumnya 14 hari kerja sejak polis diterima, jadi manfaatkan dengan baik.
Nah, semoga dengan mengetahui 5 tips ini, anda semua lebih bijak menghadapi para telemarketer atau Financial Consultant dari perusahaan Asuransi. Mereka datang dengan niat baik, tidak ada niat menjerumuskan anda. Anda yang harus bijak bersikap.
Selamat memiliki asuransi, yang BENAR dan BERMANFAAT. Bukan asal-asalan.

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...