Skip to main content

DIPATUK ULAR KOBRA

Lama tak muncul, tak berkabar seorang anggota team BHR menitip kabar pada temannya -yang juga di BHR- bahwa dia memutuskan berhenti sebagai Financial Consultant di BHR.

"Aku merasa ini bukan pekerjaan yang cocok buat aku, aku sudah berusaha menawarkan, menjual tapi setiap orang yang aku tawari menolak. Bahkan kadang mau bikin janji aja susah",katanya.
Rekan saya ini dulu kariernya bagus, termasuk petinggi lah. Mau ketemu dia saja harus melewati setidaknya empat meja : satpam, resepsionis, sekretaris dan asisten. Susah. Janjian minimal harus seminggu sebelumnya, itu juga belum tentu bisa dapat waktu ketemu. Klien kalau dia yang telpon langsung "leleh" karena dia pasti hanya akan menelepon untuk masalah yang sangat penting.

Setahun lalu dia memutuskan mengambil pensiun dini setelah perusahaan tempatnya bekerja diakusisi sebuah mogul bisnis dari mancanegara.

"Mengubah kebiasaan dihubungi menjadi menghubungi ternyata sulit",imbuhnya lewat pesan itu.
Ya, kebanyakan tenaga penjual tidak berhasil menjual karena gagal menciptakan kedekatan dengan calon konsumennya.

Semua dilakukan tiba-tiba, diluar kebiasaan. Tiba-tiba posting jualan di fesbuk, padahal biasanya tak pernah. Tiba-tiba telepon minta ketemu, padahal biasanya di SMS aja gak jawab...saking sibuknya. Maka karena diluar kebiasaan dan tiba-tiba itu orang yang dikontak jadi kaget dan curiga.
Tentu sulit menjual sesuatu pada orang yang kaget dan curiga pada kita.

Maka, janganlah membuat gerakan yang tiba-tiba dan mencurigakan. Lakukan proses penjualan secara lembut, konsisten. Kobra aja akan mematuk kalau Anda melakukan itu. Apalagi calon konsumen kita.

Eh, nggak ada hubungannya ya?

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...