Skip to main content

Dua Kota, Tiga Cerita (II)


Soal Kapasitas. Saya menunjuk seorang ibu yang kelihatannya bersemangat sekali untuk bertanya.
"Pak bagaimana caranya supaya bisa segera lepas dari jerat hutang, kadang saya sampai putus asa memikirkan hutang yang tak kunjung beres", demikian tanya ibu tersebut.

"Kalau boleh tahu, hutangnya berapa milyar bu",tanya saya, serius.

Si Ibu tersipu, menoleh ke kanan dan kiri dan dengan lirih bilang",Dua puluh juta pak, ke Bank XXX".

Saya menjawab sok relijiyes. Lihatlah bu, Tuhan menguji sebesar KAPASITAS manusia dengan berbagai macam cara : ada yang diberi harta melimpah, ada yang dianugerahi hutang yang melimpah. Kebetulan ibu diuji dengan hutang.

Seberapa besar kapasitas ibu diukur dari cara ibu menyelesaikan hutang tersebut, semakin "cerdas" ibu menyelesaikan hutang, maka sebenarnya "kelas" ibu makin naik.

Ibu diberi ujian dengan hutang Rp 20 juta, tapi sudah hampir putus asa, maka bagaimana caranya Tuhan akan berikan rezeki yang besar dan makin besar. Kemampuan ibu "mengelola" rezeki besar belum teruji...lha buktinya hutang Rp 20 juta saja sudah putus asa.

Kita ini suka nggak adil sama Tuhan. Berdoa minta hidup sejahtera, tapi usaha riilnya tak ada. Punya hutang dipikirin aja, tapi tak berusaha kreatif berfikir melakukan "sesuatu yang berbeda" untuk melunasi hutang itu.

Sudah tahu kalau dengan apa yang dilakukan selama ini hutangnya belum juga terbayar, tapi masih mengulang dan mengulang terus usaha yang sama. Tidak mau (sekedar) mendengar dan belajar dari orang lain.

Orang-orang yang diberi rezeki besar, tentu bukan tanpa sebab. Sebabnya jelas : Tuhan percaya akan kapasitas orang itu. Kapasitas untuk menerima cobaan yang besar pula. Orang yang diberi hutang "kecil" saja masih suka putus asa, tentu susah dipercaya menerima rezeki besar.
Jadi, jangan mau enaknya saja. Hutang banyak, tapi usahanya gitu-gitu saja. Mata dan telinganya ditutup saja, hanya iri hati bersimaharajalela.

Akhirnya : susah melihat orang senang, senang melihat orang susah.

** Disarikan dari salah satu pertanyaan, saat Sharing "Entrepreneurship" yang diprakarsai ibu Heny Lies di Semarang, 21 Januari 2017.

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...