Skip to main content

CERITA SI NUR


Ya, namanya Nur. Tokoh di balik keriuhan pagi di rumah kami yang mulai sepi ditinggal anak-anak yang satu per satu pergi sekolah dan kost di luar kota.

Nur adalah anak Meghan, Asisten Rumah Tangga kami, yang pernah saya ceritakan saya dulu.

Usia Nur baru berusia 7 bulan, skill-nya selain mulai ngerti lagu "Baby Shark" dari yutub juga mulai bisa merangkak. Kemarin lusa dia merangkak ke arah kursi makan kami.

Dia berusaha berdiri, berpegangan pada kursi itu. Saya dan istri hanya memperhatikan dari jauh usahanya, dua tiga kali dia mencoba : mulai dari kepalanya kepentok, jatuh terduduk sampai akhirnya dia bisa "meraih" prestasi pertamanya : berdiri tanpa kami bantu.

Tadi pagi, begitu diletakkan di lantai, di langsung merangkak menuju kursi dan meraih kursi, langsung berdiri. Tanpa bantuan, tanpa jatuh.

Saya jadi ingat petuah guru saya ", Satu kali kamu bisa meraih sebuah prestasi, maka langkah selanjutnya kamu tinggal selalu mengingat prestasi itu dan mengulangnya".

Nur sedang memberikan pelajaran pada kami,bahwa untuk meraih prestasi yang pertama itu sulit. Jatuh bangun. Tapi Nur tidak.menyerah.

Sementara di luar sana, banyak orang-orang tua yang menuntut anaknya untuk berprestasi, tapi mereka sendiri baru satu dua kali gagal, ditolak... langsung memble, menyerah.

Terima kasih Nur, sudah diingatkan bahwa sekedar Menyuruh (tanpa suri tauladan) memang lebih mudah ketimbang melakukan.

Orang kampung saya bilang "Talk is Easy, Talk is Cheap ".

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...