Skip to main content

Posts

Uang Kecil Mengamankan Uang Besar

Kemarin, saya bertemu mitra bisnis saya di sebuah kota Sukabumi.  Seperti biasa, kami bertukar kisah karena sudah lama juga tidak ketemu.  Sambil nyeruput kopi "dagangan" sendiri, kami ngobrol ngalor ngidul. Mitra bisnis saya ini masih muda, bersemangat tinggi.  Walau masih bekerja di sebuah Bank Swasta, tapi semangatnya untuk mengelola usaha "mini coffee shop" di sebuah pusat perbelanjaan tak pernah pupus.  Sudah empat tahun usaha ini berjalan, dan kelihatan hasilnya.  Hingga topik pembicaraan kami mengarah ke rencana beliau memberikan "tambahan pengaman" untuk hasil usahanya dan sekaligus menabung berinvestasi untuk putra keduanya.  Tadinya, mitra saya ini masih berfikir kalau membeli "proteksi" lagi berarti harus mengeluarkan dana tambahan ekstra.  Hingga saya berikat illustrasi. Outlet milik Mitra Bisnis Saya di Sukabumi Pertama , dengan adanya tambahan pendapatan dari usaha, maka NILAI EKONOMIS beliau otomatis naik.  Ya, karena sel...

Tidak tahu Harusnya Tanya, Bukan Protes

Tulisan saya di Blog dan Facebook, tentang 10 Tips Menghindari Agen Asuransi menuai hasil juga. Seorang kenalan -maksud saya saya cuma kenal di FB saja- protes keras dengan isi  tulisan saya.  Katanya ", Anda kok seolah menjustifikasi kalau ada orang tidak membelikan asuransi buat keluarganya, itu nggak sayang sama keluarganya". Saya tanggapi chat nya di FB dengan senyum-senyum. Saya : Mas, sebenernya inti protesnya apa? apakah karena soal mas yang belum punya asuransi atau karena saya menuduh mas tidak sayang keluarga?. Dia : saya protes, anda terlalu menggenalisir, saya sayang keluarga saya tanpa harus membelikan asuransi. Saya : Oh ya, bagus kalau begitu, anda seorang seuami dan ayah yang hebat lho.  Jarang lho ada yang mau ngaku terus terang gini sayang sama keluarga.... tapi by the way, jadi apa dong wujud sayang keluarganya...saya jadi penasaran nih. hehehehe.... (*saya becandain dia*) Dia : Owwhh... ya standar mas, saya kerja keras; gaji saya buat kelua...

Tips "Mengapa Agen Asuransi Patut Dihindari"

Iseng-iseng, di tempat saya biasa istirahat, saya mau berbagi Tips Satire ini. Di aktivitas baru ini, saya bertemu banyak sekali pengalaman baru.  Maka ini Tips lucu-lucuan saya, jangan tersinggung ya.. 10 Tips Mengapa Agen Asuransi Patut Dihindari 1. Karena agen asuransi, adalah profesi paling beriman .  Bayangkan hanya mereka yang konsistem mengingatkan bahwa hidup kita di dunia ini hanya sementara, kita pasti mati.   Sementara sales KTA menawarkan Berhutanglah, dan cicilah sampai mati; agen asuransi mengingatkan, jangan banyak hutang karena mungkin besok kita mati.  Kenyataan bahwa kita PASTI mati kapan saja selalu berusaha diingkari. 2.  Karena Agen Asuransi selalu mikirin masa depan keluarga anda, sementara anda sendiri enggak gitu-gitu amat .  Kalau pak kyai mengingatkan bahwa kalau mati anda harus bawa banyak "bekal amal" buat diri kita sendiri ke akherat, Agen Asuransi mengingatkan -untuk kepentingan keluarga yang ditinggalkan- "nilai ek...

Mau Berkah Barokah, ya Syariah

Sepulang Umroh beberapa hari lalu, entah kesambet malaikat apa, teman saya- sebut saja namanya- Hadi tergopoh-gopoh menelpon saya.  Nadanya bersemangat, mengajak saya makan siang.  Rezeki nomplok pikir saya. Hadi, beberapa minggu sebelum umroh berdiskusi dengan saya soal rencananya menginvestasikan dananya ke Manulife, supaya juga ada proteksinya.  Mungkin, pikir dia, kali aja dapat berkah bisa meninggal di Mekkah maka ada yang dia bisa wariskan buat keluarga-tentunya selain tabungan yang dia investasikan.  Tapi diskusi itu belum berlanjut, karena konsentrasi mempersiapkan umroh rupanya mengalahkan segalanya. Dan hari ini, raut mukanya nampak bersinar dan berbeda.  Pertanyaan pertama yang dia ajukan," Bro, bisa nggak aku berinvestasi di Produk Syariah? .  Maka pertanyaan ini saya sambut dengan antusias. "Begini, bagus kalo Hadi sudah ada kesadaran berinvestasi dan mendapatkan proteksi secara syariah, karena itu akan membawa berkah", kata saya.  Di...

JANGAN SALAH MEMILIH !

Jumat lalu, dalam rangkaian perjalanan, saya menyempatkan mampir menemui seorang kerabat.  Dari sekedar bertegur sapa ,menengok rumah baru beliau. Hingga topik pembicaraan mengarah ke asuransi dan tabungan.  Beliau bercerita bahwa kini sudah memiliki satu produk Asuransi dari sebuah perusahaan Asuransi lokal, yang beliau yakini adalah produk investasi/tabungan.  Saya minta diperlihatkan polisnya. Ternyata, dari polis yang saya baca, produk asuransinya bukan investasi/tabungan yang sebagaimana difikirkan beliau selama ini.  Bayangkan, dengan premi sebesar Rp 500ribu/3 bulan, masa kontrak 10 tahun, nilai Uang Pertanggungan "hanya" Rp 20 juta.  Nominal yang hampir tak ada nilainya, apalagi dihadapkan pada kondisi 10 tahun depan.  Nilai Bonus Asuransinya pun kecil sekali, sepuluh tahun lagi tak sampai Rp 3 juta. Rupanya, selidik punya selidik, sang Agen Asuransi yang menawarkan produk asuransi itu dulu kepada beliau tak menerangkan dengan detil.  Ent...

MARI BERHITUNG (Sequel 2)

Tadi siang, saya makan siang dengan seorang klien usaha.  Sambil berbincang santai, saya tanyakan apakah dia memiliki asuransi? Dengan sedikit tertawa - mengira pertanyaan saya hanya bercanda - dia menjawab : "asuransi, buat apa? ngabis-ngabisin duit aja". Terus terang saya terperanjat, tapi dengan berseloroh saya bilang. apakah anda tidak belajar ilmu perencanaan keuangan, hingga berpendapat bahwa asuransi hanya menghabiskan uang belaka. Lalu, kami mulai berdebat dan berhitung. Saya tanyakan pertama adalah, berapa NILAI EKONOMIS dia?  Dengan terperanjat, dia bilang tak tahu apa maksud saya.  Sayapun nyerocos.  Katakan pendapatan dia per bulan yang dipakai untuk memenuhi standar hidup keluarganya adalah Rp 20 juta/bulan, maka NILAI EKONOMIS dia adalah Rp 20 juta x 12 = Rp 240 juta/tahun. Lalu pertanyaan saya kedua, kapankah anda akan mati ?  Dia lebih kaget dan wajahnya tersirat agak marah mendengar pertanyaan saya.  Saya bilang, "Bung, setiap ora...

Mari Berhitung !

Ini bulan slogan, dan juga bukan judul acara di stasiun televisi.  Ini adalah kenyataan, bahwa hari ini kita musti berhitung, untuk anak-anak kita kelak. Siapkan kalkulator, secarik kertas dan pena. Berapa penghasilan anda sekarang?  Katakanlah Rp 10 juta per bulan.  Atau total Rp 120 per tahun.  Pas-pasan atau berlebih, jujur, hanya anda yang tahu.  Syukur kalau berlebih (artinya ada tabungan). Kalaupun tabungan itu ada, berapa persen dari penghasilan itu yang ditabung ? Katakan 20%, atau Rp 2 juta per bulan.  jadi total Rp 24 juta per tahun.  Bila -Alhamdulillah dan InsyaAllah- umur anda panjang, bisa memberikan penghasilan hingga 20 tahun lagi; maka bila anda menabung mulai hari ini, akan ada Rp 24 juta x 20 tahun = Rp 480 juta.  Bila disimpan di tabungan Bank, Riba yang akan diperoleh kira-kira selama 20 tahun itu adalah -katakan- 80%, maka tabungan akan menjadi Rp 864 juta.  Alhamdulillah. Catatan : 1. Anda sehat sepanjang umur ...