Skip to main content

Sebuah Film dengan Judul yang Janggal (Inspirasi dari : the Pursuit of Happyness)

Bukan bermaksud sok Inggris, tapi hanya mengutip.  Judul diatas adalah judul film-yang saya tahu bagi yang jago berbahasa Inggris rada janggal-  yang berulang saya tonton ketika malam sudah mulai dingin, embun mulai jatuh dan jengkerik mulai berdendang.

Sebuah film biasa, tapi dengan cerita luar biasa, karena diilhami kisah nyata seorang Chris Gardner, seorang sales biasa namun berbakat, dengan anak semata wayangnya Christopher yang berjuang berdua : menemukan kebahagiaan.

Kisah ini sebenarnya jamak terjadi di lingkungan kita.  Barangkali saya atau anda adalah Chris Gardner.  Seorang salesman miskin, dengan anak semata wayang tak berdosa di dunia kesendirian tanpa dukungan : berjuang mengejar mimpi.

Maka kembali pada Chris Gardner.  Dia seorang salesman miskin, dengan balita yang belum lagi tahu apa-apa.  Keyakinan pada mimpi besar yang dimiliki, membawa dia berjuang menjual alat yang sia-sia saja dijualnya.  Bisnis kadang kelihatan manis di kulitnya.  Hingga ketidakberdayaan ekonomi membuatnya terbuang dari apartemen-bersama anaknya- terlempar dan terusir dari satu penginapan ke penginapan lain, tertidur di WC stasiun kereta dan mengejar bis kota hanya agar tak ketinggalan antre di rumah singgah.  Christopher-sering tak mengerti dan menangis : mengapa ayahnya mengajaknya hidup susah dan berpindah-pindah.

Tapi, nasib baik hanya berpihak pada yang mau bermimpi besar dan berjuang-mengambil langkah nyata- untuk mengejarnya.  Terinspirasi seorang broker saham bermobil mewah yang ditemuinya di pinggir jalan, dia mencoba peruntungannya di sebuah perusahaan sekuritas.  Bekerja tak digaji dan hanya mendapatkan ilmu baru saja.  Dan Tuhan selalu Maha Adil.  Kini Chris Gardner adalah multi miliuner dan filantropis di Amerika sana.

Lalu, mengapa film ini sebegitu mempesona?  apa hebatnya film yang dibuat di Amerika, di negeri yang terkenal dengan pengagungannya pada materi?

Coba lihat diri kita.  Anak kita menangis ketika kita akan berangkat bekerja, setiap subuh.  Mereka ingin sekedar bercanda dan ngobrol dengan kita, karena semalam -seperti malam-malam yang lain- kita datang saat mereka sudah tidur.  Suami atau istri kita bersedih karena pekerjaan mengharuskan kita pulang terlambat atau tak pulang sama sekali : demi penghasilan yang sama, seperti yang diterima bulan lalu atau bahkan tahun lalu.  Dan kita merasa harus bangga bertepuk dada di depan semua anggota keluarga kita karena penghasilan, yang selalu kurang itu:  bukan karena jumlahnya, tapi bila dibandingkan dengan waktu untuk keluarga yang telah terbuang sia-sia.

Maka lihatlah Chris Gardner.

Dia mengambil sebuah titik mula dari lembah yang paling dalam.  Tanpa bantalan "keamanan finansial" hanya bertopang pada mimpi besar.  Maka apabila itu disebut penderitaan, itulah dasar dari semua derita.  Bayangkan bagaimana dia begitu gigih meyakinkan Christopher -seorang balita yang belum genap bernalar- untuk ikut "melindungi mimpinya".  "Don't ever let  somebody tell you : you can't do something...You got a dream, you gotta protect it.  If you want something, go get it.  Period".

Maka bandingkan dengan diri kita.  Kita makhluk yang ber-Tuhan.  Mustinya tak cuma bertopang pada mimpi kita berani melakukan "sesuatu yang berbeda".  Mustinya kita juga bertopang pada Tuhan yang Maha Pemurah dan Maha Adil.  Mustinya tak ada lagi kebimbangan, karena keyakinan penuh kita juga akan meyakinkan seluruh anggota keluarga kita.  Sebagaimana Christopher meyakini mimpi ayahnya.

Maka tak ada lagi rasa jenuh atau tersia-sia.  Sehingga belajar dari Chris Gardner : timbang lagi mimpi anda, lakukan sesuatu yang berbeda...pasti hasil yang akan kita capai juga berbeda.  Ingin memiliki gaji lebih besar, carilah karir di tempat yang bisa memberikan gaji lebih baik (artinya bekerja dengan sedikit waktu, dengan gaji yang lebih banyak); atau ingin memiliki bisnis sendiri?  Mulailah jangan banyak berfikir, mempertimbangkan dan menunda.

Timbanglah banyak waktu untuk keluarga, karena kesanalah kita akan pulang.  Uang bukan segala-gala.

Tuhan selalu bersama kita.  Setidaknya itu yang diajarkan Chris Gardner pada kita. Semoga menginspirasi.
-------------------
Untuk istri dan anak-anakku
Bogor, 11 April 2011

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...