Skip to main content

CERITA SOAL KETEGUHAN HATI




Dia berdiri tegak di kawasan timur (PuDong) kota Shanghai.  Dari puncaknya, terlihat kecil kapal-kapal besar yang hilir mudik di sepanjang sungai Huang Pu.  Gedung ini, Shanghai World Financial Centre (SWFC) adalah bukti, sebuah cerita soal keteguhan hati.

HANYA CERITA FIKSI

Tengoklah Shanghai awal tahun 1990-an.  Deretan gedung megah dengan gaya kolonial berderet di kawasan barat kota ini, kawasan PuXi.  Dengan sungai Huang Pu sebagai pembelah, Puxi adalah kawasan mapan sedangkan Pudong adalah daerah yang ingin bangkit serta berkembang.  Ide membangun sebuah gedung pencakar langit adalah cerita fiksi belaka.  Hanya impian di siang bolong.
Struktur tanah berlempung, cuaca dan angin yang kerap tak bersahabat adalah hantu menakutkan untuk pengembangan kawasan Pudong.  Zhao Qizheng, wakil walikota Shanghai yang bertugas untuk pengembangan kawasan Pudong sempat pusing tujuh keliling.  Hingga datang sebuah gagasan, yang dilontarkan oleh seorang Jepang -musuh bebuyutan negerinya- seperti membawa cerita fiksi itu menjadi kenyataan.  Minoru Mori, menawarkan sebuah gagasan membangun sebuah gedung tertinggi, ikon landmark yang lebih tinggi dari Oriental TV Tower dan Jin Mao Tower yang dibangun sebelumnya : gedung bernama Shanghai World Financial Centre (SWFC).
Sebuah gagasan hebat, untuk mewujudkannya, ternyata selalui menemui tantangan yang hebat pula.   Gagasan Mori atas desain gedung ini mulai diinisiasi pada tahun 1993 oleh Kohn Pedersen Fox (KPF) Associates yang kemudian diselesaikan desain strukturnya oleh Ove Arup&Corp.  Sentuhan akhir desain arsitektur dilakukan oleh Shimizu Corporation di Tokyo, Jepang.  Desain dan struktur menjadi tantangan terbesar, mengingat tanah labil dan berlempung di pinggir sungai Huang Pu ini.  Ditambah lagi, rancangan harus sangat mempertimbangkan kemungkinan gempa dan badai yang kerap terjadi. 
Tahun 1995,  dua ratus tiang pancang sudah mulai ditancapkan.  Kedalaman tiang pancang tak main-main, mencapai 78 meter.  Ini adalah upaya menancapkan kekuatan “cakar” sebuah gedung yang direncanakan setinggi 406 meter dari atas permukaan tanah.  Persoalan selesai ?  belum !.  Pada tahun 1997, penggarapan fondasi mulai terlihat wujudnya dan itu berlangsung hingga dua tahun berikutnya ketika krisis keuangan dunia mulai melanda.  Perusahaan konstruksi yang menggarap gedung ini : Leslie E. Robertson Associates (LERA) mendapatkan tawaran yang menarik dari perusahaan produsen besi baja Jepang. Nippon Steel Corp untuk menyelesaikan masalah bahan baku konstruksi yang mahal dengan model konstruksi besi baja yang lebih murah dan mudah.

TANTANGAN YANG TAK KUNJUNG USAI

Pada tahun itu juga, 1999, Mori mendengar bahwa Taiwan 101 Tower yang baru saja dipancangkan di Taiwan, akan direncanakan sebagai gedung tertinggi di dunia dengan ketinggian 449 meter.  Dan itu, jelas mengalahkan SWFC yang dia rencanakan “hanya” 406 meter.  Mori panas dan berfikir keras, ini adalah hal yang tak dapat diterima.  SWFC harus tetap menjadi gedung tertinggi di dunia.  Mori kemudian memutuskan untuk mengubah struktur gedung ini, membuatnya lebih tinggi 90 meter dengan menambahkan menjadi 101 lantai.  
Penambahan ketinggian gedung hingga 20% dari tinggi aslinya tentu memusingkan para insiyur di LERA.  Dari rancangan awal, sebenarnya bisa ditoleransi penambahan 10% ketinggian saja.  Tapi bukan tantangan namanya kalau itu tak bisa diselesaikan, para insinyur di LERA menambahkan dimensi dasar gedung dari 55.8 meter menjadi 59 meter.  Persoalan selesai ?  Belum.
Serangan “teroris” ke menara kembar WTC di Amerika mengagetkan dunia, 11 September 2001.  Ini seakan meniupkan gelombang paranoia pada para konstruktor gedung bertingkat tinggi tentang perlunya sebuah rancangan gedung yang tahan serangan teroris.  Dan ini membuat Mori, para insinyur serta tukang bekerja keras membuktikan kepiawaian mereka membangun sebuah terobosan struktur gedung yang tak Cuma anti gempa, badai namun juga anti teroris.  Maka lahirlah sebuah gedung 101 lantai, dengan struktur inti di tengah ditopang struktur baja di sekeliling sebagai jawaban atas berbagai tantangan itu. 
Artinya sudah 8 tahun sejak gagasan digulirkan, gedung ini belum selesai.  Bukankah memang seperti itu dalam hidup?  Membangun mimpi yang besar tak bisa instan?  

LINGKARAN ATAU KOTAK

Gedung megah ini sudah berdiri, dia sudah hampir mencatatkan diri sebagai gedung tertinggi di dunia saat itu.  Tapi tantangan belum juga selesai.  Masalahnya adalah struktur anti badai gedung ini dirancang dengan sebuah lobang di atas puncaknya.  Dia berbentuk lingkaran dimaksudkan sebagai “gerbang bulan” sebagaimana dalam mitologi China.  Namun, tak disangka lingkaran ini dipermasalahkan oleh otoritas China, karena lingkaran ini seolah melambangkan bendera Jepang.  Wajar saja, Mori adalah orang Jepang asli, dan meletakkan lingkaran “seolah bendera Jepang” itu semacam penjajahan baru atas China.  Pemerintah China berkata keras pada Mori : hentikan pembangunan gedung (yang sudah 75% jalan) atau ganti lingkaran di atas gedung itu.
Bukan Mori bila menyerah begitu saja, maka dia berkompromi.  Diubahlah lingkaran itu, menjadi kotak.  Hingga dari kejauhan gedung yang akhirnya selesai dalam waktu 10 tahun ini, sering dijuluki sebagai “pembuka botol”.  Investasi USD 1 milyar tak sia-sia.  Kini SWFC menjadi ikon belanja, wisata dan juga sejarah kota Shanghai.  Dia tegak berdiri di pinggir sungai Huang Pu menantang dunia.  Tak heran bila SWFC diganjar penghargaan sebagai Best Building 2008 dari The Council of tall Building and Urban Habitat.  Tak berhenti sampai di sana,  Minoru Mori –sang penggagas- pada tahun yang sama diganjar “The Best Businessman of the Year” dari majalah FORTUNE.

Maka, SWFC bukan hanya soal membangun gedung paling tinggi.  Ini soal cerita keteguhan hati.

Comments

  1. mukacasino.com beh.. cerita nya bener2 sangat menginspirasai >,<

    ReplyDelete
  2. Hi,
    I'm Susan Evangelina
    Thank’s for your sharing
    This article it’s very helpfully

    Webpage >> Judi Slot Online Gacor Terpercaya

    ReplyDelete
  3. Heloo,
    I'm Hilda Fransiska
    Thank’s for your sharing
    This article it’s very helpfully

    Visit | Bocoran Situs Judi Slot Gacor

    ReplyDelete
  4. 매우 흥미로운 정보를 공유해 주셔서 감사합니다.
    계속 연락하다: Situs Slot

    ReplyDelete
  5. 한국의 안전한 온라인 카지노 게임 사이트 슬롯머신. Slot Gacor Maxwin

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...