Skip to main content

Kali ini kisah Tukang Tahu

Namanya Tohir, asli Cirebon. Lajang tidak lulus SMP, usianya -menurut pengakuannya- belum genap 25 tahun. Sudah 10 tahun merantau, dengan segala macam pekerjaan telah digelutinya. Kini, sudah hampir genap tiga tahun ditekuni profesi terakhirnya sebagai Tukang Tahu : menjual segala macam tahu berkeliling dengan motor Supra Fit-nya.

Dia muncul tiap pagi di depan rumah saya, pagi ini dia nongol ketika saya sedang mencuci mobil.

Dengan percaya diri, pagi tadi, dia menggoda setiap pembantu rumah tangga yang lewat di depan rumah saya. Lalu dia riang bercerita.

Menjadi tukang tahu selama 3 tahun terakhir adalah ladang rejeki yang baik baginya. Kehidupan sebagai kuli angkut di Pasar Induk, tukang bangunan hingga pedagang kakli lima -yang sempat berkali digaruk Tramtib- sudah dilewatinya. Tohir, ingin berumahtangga. Saya kira itu jawaban kenapa dengan pede dia menggoda setiap pembantu rumah tangga yang lewat depan rumah saya.

Tidak ada nada keraguan ketika dia bercerita soal rencana-rancananya. Hasil berdagang sudah berujud motor sebentar lagi lunas cicilannya, bisa ikut "urunan" batu bata untuk membangun rumah orang tuanya nun di Cirebon sana, sepetak sawah yang tak terlalu luas (katanya) dan dia ingin segera berumahtangga. Tidak ada keraguan soal akan bagaimana nanti kelangsungan usahanya, sebagai tukang tahu keliling, dengan omzet paling besar 400 ribu sehari.

Tohir hanya yakin semua bisa dilaluinya. Perjalanan panjang 10 tahun di perantauan, dari ujung kehidupan paling busuk sudah membentuknya.

Kata Tohir: jaman dulu saya sudah pernah tidur beralas koran, beratap langit. Bekerja sebagai kuli angkut dengan bayaran 40 ribu SEHARI. Bergaul dengan segala strata paling busuk di tataran kehidupan manusia. Jadi -lanjut Tohir lagi- buat saya tak ada lagi ketakutan untuk menghadapi kondisi paling buruk dalam hidup. Dasar kehidupan yang buruk telah dialaminya.

Kini, dengan motor yang sudah dimilikinya, dagangan tahu yang menyumbang keuntungan ke pundinya ditambah KEYAKINAN bahwa esok pasti lebih baik : Tohir menjalani hidup dan menghadapi masa depannya.

Kita belum pernah seburuk Tohir. Barangkali dasar terburuk kehidupan kita barulah terlilit hutang, naik turun angkot untuk mengejar gaji yang" kecil" atau masih tinggal di rumah kontrakan yang sempit.

Tapi lihatlah Tohir, hidupnya FOKUS. Fokus mengejar masa depan - yang menurut keyakinannya - pasti lebih baik, walau hanya sebagai tukang tahu. Maka, saya kira, fokus pada keyakinan adalah kuncinya.

Fokus bahwa hutang yang melilit akan selesai (dengan terus mengais segala peluang dan sumber nafkah yang halal), fokus pada keyakinan nasib anak-anak kita lebih baik di masa nanti (dengan menyekolahkannya di sekolah terbaik) : Insya Allah akan tercapai. Tentu, karena kita beragama, kekuatan doa juga ikut menentukan.

Maka, belajar dari Tohir Tukang Tahu yang sedang pede dan genit menggoda para pembantu rumah tangga di depan rumah saya : FOKUS dan terus "BER-AKSI" lah; karena masa-masa terburuk sudah hampir kita lalui, masa depan yang gilang gemilang sedang menunggu.

Kalau Tohir -seorang Tukang Tahu Keliling - saja bisa, apalagi kita.

Semoga menginspirasi.


** 29 Januari 2010

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...