Skip to main content

#cariangin (4)

Pasnya kapan bisa dilihat di buku sejarah, tapi kira-kira di abad ke 17 Kerajaan Gowa "dipukul" oleh VOC. Petinggi kerajaan beserta jajarannya -yang notabene orang Bugis, dan sebagian orang Minangkabau- memilih berdiaspora. Salah satu wilayah yang mereka tuju adalah Tanah Melayu : Sumatera, Malaya (termasuk di dalamnya senagian wilayah Hatyai di Thailand, Sebagian besar Malaysia dan Singapura).

Tak heran bahwa -konon- beberapa Raja atau pimpinan Kesultanan di Malaysia mengalir darah Bugis dalam badannya.

Di kawasan Kallang, termasuk sekarang menjadi daerah real estat Bugis, orang-orang keturunan Bugis berperang, berdagang, tinggal dan beranak pinak. Di sini berdiri Bugis Junction yang keren, Bugis Street yang tak pernah mati, dan aneka rupa stall makanan di Albert Centre termasuk sebuah stall sate serta aneka rupa makanan Indonesia.

Dan saat tahun 1819 Inggris menyerahkan sebidang tanah pada Tengku Abdul Rahman -Sultan Johor yang keturunan Bugis- dan sebidang tanah itu kini bernama Kampung Glam, satu area dengan kawasan Kallang. Di sanalah pada 1824 dibangunlah sebuah masjid yang sangat berpengaruh hingga kini, salah satu masjid terbesar di Singapura : Masjid Sultan. Sejarah Masjid Sultan akan saya tulis di #cariangin (5) besok.

Di foto ini adalah (pasar) Bugis Street, tempat turis cari suvenir murah meriah. Dan laki-laki berkaos abu itu bukan turis apalagi tenaga kerja illegal dari Cina.


Dia cuma lelaki biasa yang napak tilas kebesaran serta kehebatan nenek moyangnya menaklukan dunia, yang tak melulu cuma berisik soal duit baru dan pilkada.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U...

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya). Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :   http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.html Namun, kisah ibu nasabah (y ang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman. Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi. Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit L...

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...