Skip to main content

Koh APHIN, TURUNAN KETIGA SEMBILAN NAGA

Kios Koh Aphin
Dia adalah generasi ketiga sembilan naga pedagang ikan asin. Kakeknya adalah salah satu naga yang menguasai perniagaan ikan asin di Pasar Jembatan Tiga hingga Tangerang Kota, ayahnya mengadu nasib menjadi tauke ikan asin di Pasar Bogor dan Pasar Anyar...dan Aphin, saya memanggil sesuai nama kiosnya Ko Aphin mencoba berjaya bersama jambal roti, teri Medan dan cumi asin di Pasar Sentul.

Saya rutin menemui Ko Aphin saat ritual minggu pagi, mengantar istri belanja mingguan, di Pasar Segar Sentul. Dan Aphin selalu tampil keren, kemarin dengan potongan rambut baru ala vokalis boyband Korea.

"Potong di Kaizen Ekalos, bos", jawabnya. Koh Aphin masih Gen Y lah, baru 33 tahunan. Penampilannya selalu keren, walau bau ikan asin meruap sedemikian rupa di kiosnya.

Penasaran kemarin saya tanya kenapa jaga kios ikan asin aja pakai baju keren. "Karena saya tiap hari pamit sama anak istri mau kerja bos. Dan orang kerja musti rapih kan",jawabnya diplomatis.

Saat saya tanya apa nggak aneh dagang di pasar pake baju rapi, nggak malu gitu.

"Dagang gini kan juga keren bos. Saya nggak mungkin jadi pegawai negeri, nggak kuat kerja kantoran. Ya saya dagang lah. Kios ikan asin ini kantor saya. Ya musti tampil keren lah, kan ngantor.
Yang suka bikin kita nggak merasa keren kan perasaan kita sendiri bos. Dagang gini aja saya bisa nyekolahin anak, beli rumah mobil, rutin ikut pelayanan di gereja",katanya sambil mengunyah tahu goreng.

Bener juga, banyak orang mencari pekerjaan hanya karena pengen keren.

Di BHR (mungkin juga di luar sana juga sama) banyak saya saksikan teman-teman yang gagal dan kalah karena merasa apa yang mereka lakukan tidak keren, bikin gengsi ambrol. Ketemu teman, baru ditanya : What? Kamu jualan bakso? Kamu dagang sprei? Kamu jadi 'aktivisi' MLM? Kamu jadi agen asuransi?...langsung deh malu dan pengen bunuh diri.

Dan repotnya, keren itu memakai tolok ukur kata orang.

Dan karena hanya mengejar keren kata orang itu, jangankan berkontribusi untuk "lingkungannya", buat diri sendiri saja selalu kurang dan kurang.

Koh Aphin, generasi ketiga sembilan naga ikan asin, tolong besok jangan panggil saya Bos ya. Biar enak minta diskon cumi asinnya

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...