Skip to main content

DARI PRAMBANAN MEMBAWA CERITA

Ini foto mas Soleh, bersama asistennya. Sebut saja Solihun. Mereka bukan sedang membangun candi Prambanan, tapi memasang atap untuk calon "padepokan" di halaman belakang rumah saya.

Saya menemukan mas Soleh lewat sebuah situs penyedia jasa. ...

Sepuluh tahun lalu, mas Soleh merantau ke Jakarta dari Prambanan. "Nggak kebagian sawah pak",jawabnya saat ditanya kenapa merantau ke Jakarta. Bersama lima orang teman sekampungnya, mereka berpindah dari satu bedeng proyek ke bedeng proyek lain.
Dari hanya kuli batu "biasa", mas Soleh naik pangkat jadi juru las. Empat tahun lalu, setelah upah jadi kuli yang dikumpulkannya cukup : mereka berenam membuat bengkel las. Menerima order membuat pagar, atap kanopi untuk garasi.

Cukup waktu dua tahun, usaha itu bangkrut. Dua tahun, tiga kali bengkel digusur dan berkali-kali terendam banjir kali Pesanggrahan. Belum persaingan dengan bengkel las lain yang modalnya lebih besar. Ditambah orang mulai melirik bengkel baja ringan yang lebih mudah pemasangannya serta tahan lama.

Semua peralatan las habis dijual. Bangkrut total. Dan mereka berenam sempat tiga bulan lontang-lantung, makan dua hari sekali.

Hingga suatu hari saat iseng browsing di hape bututnya, mas Soleh menemukan situs Sejasa.com (maaf, bukan jualan dan saya nggak punya selembar saham di situ).

Dia melihat peluang.

Maka sejak setahun lalu dia menemukan langkah cerdas. Dari bilik kontrakan mereka di belakang Selapa Lebakbulus mereka mengalahkan Jabotabek hingga Banten. Saat mas Soleh memasang kanopi di rumahku, dua tim temannya sedang mrngerjakan proyek yang sama di Cisauk-Tangerang dan Cikarang.


"Sekarang saya tak perlu lagi modal besar buat bikin bengkel pak. Dari order yang masuk ke Sejasa, saya cukup modal meteran, bor listrik dan kabel rol. Saya belanja setelah terima DP",katanya. "Saya nggak perlu mobil atau truk untuk membawa besi yang sudah dirakit, karena dengan baja ringan saya bisa rakit langsung di lokasi. Bahan baku saya beli di lokasi terdekat aja minta diantar sama tokonya, nggak perlu saya bawa-bawa dari Lebak Bulus",Imbuhnya.

Saya ingat terus pesan cak Dlahom-nya cak Rusdi Mathari : (Mengapa) merasa pintar, bila bodoh saja tak punya.

Dengan bendera Prambanan Jaya Trust, mas Soleh bercerita bahwa hidup memang harus lentur. Fleksibel, peka pada perubahan.

**) Menurutku pekerjaan mas Soleh rapi, cepat Dan harganya relatif masuk akal. Yang mau pasang atap atau kanopi baja ringan bisa kontak dia di 081319805862 See More

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...