Skip to main content

CARA PENTING, TUJUAN LEBIH PENTING


Kemarin selepas mengisi sesi Sharing "Asuransi sebagai Solusi Perencanaan waris dan pajak" untuk teman-teman di asuransi Zurich kemarin, saya bergegas menghadiri pertemuan dengan seorang teman, sekaligus calon nasabah. Ingin konsultasi, katanya ...

Kami bertemu, memesan dua gelas kopi dan kudapan ala kadarnya. Obrolan mengalir lancar.

"Bas, pengen konsultasi dong. Tanya-tanya. Gue liat elo keliling kesana-kemari ngisi sesi sharing Perencanaan Waris dan Pajak. Emang ada yang minat dengerin, gitu",Tanyanya penasaran.

Saya buka Ipad, buka tautan dari sebuah situs analisa Data dan berita. Di Indonesia, menurut Laporan Global Wealth Report 2017 yang dirilis Credit Suisse Wealth Management " setidaknya ada 868 orang super kaya dan 111 ribuan orang yang dikategorikan kaya. Kriteria orang super kaya itu adalah memiliki Nilai kekayaan bersih US$50 juta (Rp 675 Milyar), dan orang kaya Rp US$ 1 juta (Rp 13,5 Milyar).

"Mereka adalah orang-orang yang 'concern' soal Waris dan Pajak. Ya mereka audiens acaraku", Jawabku. Dia manggut-manggut.

Lalu sambil mencomot "Fried Banana" dia melanjutkan ",Aku mau mulai belajar mengelola duit dong. Biar bisa cepet kaya, bisa kayak elo jalan-jalan mulu".

Saya ngakak ",Begini bro, oke cita-citamu buat jadi kaya aku hargai. Tapi bisa jalan-jalan gak musti harus kaya sesuai kriteria Credit Suisse".

Begini, lanjutku sambil mengeluarkan kertas dan spidol. senjata andalan kalau ketemu nasabah. Saya gambar lingkaran, dan dibagi empat.

"Bro, hidup kita ini sebenarnya terbagi dalam dua periode besar yang dibagi lagi dalam empat periode kecil", kata saya.

Periode A adalah periode NGGAK BISA CARI DUIT, HANYA BISA BUANG DUIT. Periode B adalah periode BISA CARI DUIT, BISA NGABISIN DUIT juga.

Nah, Periode A1 adalah masa kita sekolah, cari ilmu. Masa minta duit ke ortu. Periode B2 adalah mulai kerja, duit masih dikit, kebutuhan juga masih dikit. Periode B3 adalah periode kerja mulai mapan, gaji oke tapi kebutuhan nambah karena ada rumah tangga. Periode A4 adalah periode pensiun, gak bisa kerja, mulai sering encok dan direcokin anak dan cucu.

Jadi, kalau aku ditanya mulai dari mana proses ngerencanain keuangan, mulai dari Periode A4.

Dia bingung",Lho kok, mulainya dari pensiun?".

Ya, mulai dari hitung kebutuhan duit elo pas pensiun. Misal, pas pensiun elo buat buat hidup sendiri, support keluarga, anak atau cucu sebulan perlu Rp 20 juta, maka kebutuhan tahunanmu Rp 240 juta.

Karena udah nggak kerja, maka harus ada sumber dana yang menghasilkan Rp 240 juta per tahun. Cara paling gampang, punya deposito yang bisa kasih bunga tiap tahun segitu. Dengan asumsi bunga bersih deposito 3% per tahun, maka POKOK yang ada di dalam deposito itu musti ada Rp 8 Miliar.

Nah, silakan pada periode B2 dan B3 mati-matianlah kerja, kumpulin Rp 8 Miliar itu. Makin menunda memulai ngumpulin, maka makin mati-matian.

Dia mulai kelihatan, merenung.

"Itu belum selesai dan itu perlunya strategi",kata saya.

Strateginya, siapain dua SKENARIO.

SKENARIO UMUR PANJANG. Artinya skenario dimana kita diberi umur panjang, mampu kerja terus sampai masuk periode pensiun. Mulai berinvestasi apa saja yang tujuannya mengakumulasi dan mengembangkan "dana pensiun" sampai sejumlah Rp 8 Miliar.

Illustrasi, kalau misalnya berinvestasi di Reksadana Pendapatan Tetap dengan pengembangan rata-rata 10% per tahun, mulai dari umur 25 tahun, maka tiap bulan musti nyisihin Rp 2,5 jutaan. Tapi kalau mulai baru di umur 35 tahun, tiap bulan musti nyisihin Rp 6,75 juta ... kebayang kan kalau baru mulai nyisihin di umur 45 tahun. Beraaaat.

Nah, lengkapi diri dan keluarga dengan asuransi kesehatan yang memadai. Supaya kalau ada yang sakit, tak perlu nyuwil tabungan.

SKENARIO UMUR PENDEK. Artinya skenario di mana kita umurnya tak panjang, nyisihin duit belum sampai Rp 8 Miliar, nyawa udah keburu jatuh tempo. Maka siapin Polis Asuransi -bisa dicicil- sampai punya total Uang Pertanggungan Rp 8 Miliaran juga. jadi punya asuransi bukan persoalan gagah-gagahan atau banyak-bayakan koleksi polis.

Jadi, mau umurmu panjang atau pendek : keluargamu tetap hidup layak, gak kekurangan duit.

Dia manggut-manggut. "Ooh, jadi itu gunanya asuransi ya", katanya sambil nyomot potongan pisang goreng terakhir di meja, padahal sudah saya incer dari tadi.

Nah, kalau dua skenario itu sudah beres, periode A4 dan A1 milik anak cucumu udah beres, silakan sisanya buat elo pakai jalan-jalan dah...

"Jadi, elo boleh jago cari duit sekarang, CARA itu penting. Tapi yang paling penting adalahTUJUAN keuanganmu musti jelas",Tutup saya.

Dia manggut-manggut, merogoh dompet dan memaksa untuk bayar.

** Terimakasih Bro R yang membolehkan pembicaraan ini direkam dalam tulisan, dan juga karena udah traktir kemarin. Ntar gantian ya ...

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...