Skip to main content

MODAL YAKIN

Karena sedang membutuhkan frozen food untuk bekal makan siang anak, saya mencari nomor telepon seorang teman yang dulu berbisnis jualan frozen food.
Ketemu nomor kontaknya, kemudian saya watsap bahwa saya memerlukan beberapa varian seafood beku yang dulu dia jual.
"Aku udah nggak jualan lagi mas. Sekarang aku kerja lagi di XXXXX (menyebut nama sebuah koran gurem yang terbit di Jakarta dan tak tau beredar di mana)",jawabnya.
"Lho, kenapa ditinggalin bisnisnya", Cecar saya agak kecewa.
"Kayaknya aku nggak bakat jualan, mas. Profitnya nggak nutup buat kebutuhan", Jawabnya lagi.
Setahu saya, standar gaji di koran XXXXX itu juga pasti tak besar. Kalau dibandingkan potensi pendapatan yang bisa dia dapat dari jualan (kalau serius) pasti nggak ada apa-apanya.
Saya teringat sekitar dua tahun lalu dia datang ke tempat saya, minta "advis" supaya bisnisnya maju. Advis yang bisa saya berikan cuma satu : Bangun Nama (Brand) mu. Lakukan Personal Branding sekuat mungkin di sosial media, karena itu gratis".
Anda tahu apa jawaban dia?
"Aku malu mas. Nanti saudara-saudaraku tahu aku nggak kerja (kantoran) dan malah jualan "ginian", Katanya.
Ginian itu maksudnya produk frozen food, serta dia sendiri menganggap posting jualan di sosial media itu semacam "Aib".
Lalu saya bertanya",Lha kamu sendiri yakin nggak bakal sukses jualan "ginian"?.
"Belum tahu sih mas", Jawabnya.
Itu masalahnya, dia sebenarnya bukan sedang tidak yakin pada bisnisnya, pada barang dagangannya. Dia sedang TIDAK yakin pada DIRINYA SENDIRI.
Banyak orang gagal berbisnis, gagal jualan karena itu tadi : tidak yakin pada (potensi) pribadinya.
Pertanyaannya : Bagaimana mau meyakinkan orang lain (untuk membeli dagangan darinya), kalau dia sendiri tidak yakin pada dirinya sendiri?
Ibaratnya melamar anak orang, menjanjikan pada mertua akan memberikan masa depan gemilang pada anak si calon mertua, tapi dia sendiri tak yakin pada masa depannya sendiri. Runyam.
Tampil di sosial media adalah cara memaksa kita membuat "Point of No Return". Ketika sudah nyemplung, pilihannya cuma dua : sukses atau sukses banget.
Jangan setengah-setengah. Akhirnya nggak kemana-mana. Cuma maju-mundur jelek.

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...