Skip to main content

GAGAL KARENA TIDAK PERCAYA

Belajar dari para orang-orang sukses yang kami temui, disimpulkan bahwa Orang TIDAK SUKSES saat memiliki usaha/bisnis karena :

1. TIDAK PERCAYA PARA PRODUK. Masih ragu soal produk yang dijualnya, tidak mau bertanya atau bertanya pada orang yang sama-sama tidak ngerti. Sehingga alih-alih menemukan jawaba, yang terjadi justru makin dalam sesatnya

2. TIDAK PERCAYA PADA BISNIS dan SISTEMNYA. Menjalankan bisnis "seenaknya" sendiri, coba-coba sendiri dan tidak percaya pada sistem sukses yang ada. Biasanya gejalanya mudah : mulai tidak percaya bahwa pertemuan mentoring dan kelas bisa menunjang kesuksesan bisnis, sehingga sering telat atau absen datang.

3. TIDAK PERCAYA PADA LEADER atau MENTOR. Lebih mendengar apa kata orang, yang lebih parah ngomongin leader/mentor di belakang. Akhirnya tidak ada satupun materi meeting atau kelas yang "nempel" dan bermanfaat buat jualan, karena apa-apa yang disampaikan mentor dianggap "angin lalu" saja. Nanti lama-lama biasanya kalau sudah tidak berhasil, mulai berkumpul dalam klub baper (sama-sama tidak berhasil).

4. TIDAK PERCAYA KEMAMPUAN DIRI SENDIRI. Kita menawarkan produk/jasa pada orang lain tapi kita sendiri nggak percaya pada konsep yang kita bawa. Ibarat mau melamar anak orang, ketika ditanya bakal bisa nggak menyejahterakan anak mertua, dan menjawab  : tidak yakin. Pasti ditolak lah lamarannya....

Semoga kita semua : Benar-benar sejahtera, nggak pura-pura sejahtera.

Amiiin.

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...