Skip to main content

ORANG BAIK PERGI CEPAT

Tadi malam mendapatkan kabar duka. Salah satu Inspirator yang kisahnya saya tulis di halaman 36 buku pertama saya “Titik (Tidak Bisa) Balik” : pak Oman Supratman meninggal dunia. Beliau adalah sahabat sekaligus mentor ilmu kehidupan saya. Semoga beliau mendapatkan termpat terbaik di sisi Nya.

Tentang pak Oman, pada 30 Januari 2008, saya pernah menuliskan kisahnya di halaman Fesbuk saya. Untuk yang tak mengenal beliau, setidaknya mungkin bisa ikut mengenang dan mendoakan beliau, setelah membaca tulisan ini :
————————————-
PAK OMAN

Tadi malam, di tengah tumpukan onderdil mobil dalam sebuah bengkel milik kawan saya Cipto di bilangan Warung Buncit Jakarta, saya bertemu seorang kawan lama. Oman Supratman namanya-atau kami lebih sering menyapanya : kang Oman.

Sosoknya kecil tak istimewa, kulitnya legam tidak menggambarkan aslinya sebagai urang Tasik tulen. Saya sempat sekantor dengannya, empat belas tahun lalu, namun tak lama. Dulu sosoknya dikenal bengal dan suka berbuat seenaknya. Mabuk di klab malam adalah hal biasa, sorot matanya yang tajam adalah satu-satunya yang bisa membuatnya berwibawa di mata klien-klien kami dulu di Republika. Oya, di kalangan agen-agen Koran di ibukota, namanya tak asing di telinga, karena pengalamannya. Sudut tikus mana di kota Jakarta yang tak dikenalnya? Rasanya tak ada. Itulah pak Oman yang dulu saya kenal.

Saya sudah lama lagi tak berjumpa dengannya, semalam, adalah delapan tahun kemudian sejak kami terakhir berjumpa. Pak Oman, sudah menjadi pribadi yang benar-benar baru buat saya. Dia sudah menjadi inspirasi buat saya.

Delapan tahun lalu, selepas dari Republika, pak Oman tak lagi memiliki pekerjaan yang tetap. Kami - teman-temannya yang kebetulan masih bekerja di Koran- menawarkan sebuah peluang bisnis yang sebenarnya tak asing dalam dunianya : sebagai rekanan distribusi. Pekerjaan ini adalah bagian marginal dalam bisnis Koran. Bagaimana tidak, pekerjaan ini menuntut pelakunya tak pernah bisa menikmati tidur malam yang nyenyak, bekerja dari pukul 11 malam, hingga paling cepat jam 4 pagi esok harinya. Tiada hari libur, keculai saat Koran memang sedang tak terbit-tak peduli hujan badai, banjir atau kering melanda dunia.

Pak Oman menerima tawaran kami –dulu- barangkali karena terpaksa. Tapi ini mengubah hidupnya. Dengan Suzuki Carry tua warna putih yang dimilikinya, pak Oman memulai segalanya. Tak canggung, selama delapan tahun, tanpa pernah libur satu haripun, kecuala saat sakit atau Koran tak terbit, pak Oman dengan setia menjalani profesi barunya ; sebagai pengusaha angkuran Koran, meskipun semua posisi masih dirangkapnya : sebagai pemilik dan sebagai sopir. Semua dijalaninya dengan ikhlas,pada akhirnya.

Tadi malam-setelah delapan tahun- saya melihat semua tempaan sudah mengubahnya. Jatuh bangun mengelola bisnis angkutan Koran, sudah menampakkan hasilnya. Kini, carry tua warna putih sudah tak ada lagi padanya, sebagai gantinya, kini dia memiliki 1 Kijang, 1 Avanza dan 2 mobil boks serta memberdayakan setidaknya 25 mobil angkutan Koran dalam jaringannya; sehingga kini; pak Oman bisa menjangkau tak hanya Jakarta, namun sampai ke Lampung dan seluruh Jawa. Kalau dulu pak Oman hanya sendirian menjalankan usahanya, kini dengan bendera CV. RBS, dia sudah memberdayakan banyak orang dan turut menciptakan lapangan kerja, bagi setidaknya 30 sopir dan keneknya.

Tapi, Pak Oman –sebagaimana delapan tahun lalu- saat dia baru memulai usaha, tetap tekun setiap malam membawa sendiri mobilnya. Posisinya sebagai bos, tak membuatnya canggung berperan sebagai sopir.

Walau tak kurang dari enam koran ibukota terkemuka, dan puluhan majalah dan tabloid telah menjadi kliennya – malam itu – saya tak melihat itu semua mengubah pak Oman menjadi sombong atau berbesar kepala. Dia tetap apa adanya. Dunia hura-hura sudah tak lagi dijalaninya, hutang kartu kredit yang melilit sudah lama ditinggalkannya.

“Segera memulai dan banyak-banyaklah berbagi”, demikian ujarnya. Sebuah pernyataan yang luar biasa buat saya yang telah mengenal sosoknya jauh-jauh hari sebelumnya. Ujarnya lagi”, Dengan memulai, berarti kita membuka pintu rezeki kita, membuka peluang penawaran-penawaran besar menghampiri; dan dengan berbagi, berarti kita membuat rezeki kita juga berguna buat orang lain”. Luar Biasa.

Kerja keras dan jujur, tetap optimis bahwa perubahan bisa diciptakan –bukan hanya ditunggu- adalah resep suksesnya. Delapan tahun tempaan mengelola usaha, dengan segala bantingan gelombang susah dan senang, tanpa pernah berfikir untuk menyerah dan berhenti- kini sudah bisa dilihat hasilnya.

Di tengah keluhan teman-teman di beberapa perusahaan Koran terkemuka seperti Seputar Indonesia yang terncam terkena PHK, dan hanya bisa mengeluh tanpa tahu akan berbuat apa, sosok Pak Oman mengingatkan saya tentang pentingnya etos bekerja keras menciptakan perubahan, tidak canggung mengerjakan apapun-asalkan halal, mengesampingkan gengsi dan tetap optimis tak mudah menyerah.

Pak Oman, acungan empat jempol saya untuknya.

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...