Skip to main content

Posts

Mas Adi, Tukang parkir depan Bakso PMI Sempur

Saya pikir dia salah satu orangtua yang menunggu anaknya pulang studytour, malam itu pukul 11 malam di lapangan Sempur. Hingga kami ngobrol di depan warung bakso yang sudah tutup, di bawah siraman lampu neon 10 watt. Di bangku kayu yang sedikit basah tersiram hujan. Adi, begitu namanya. Umur kami sebaya, tapi dia (dulu) menikah muda. Anak sulungnya, kini sudah dua tahun bekerja di percetakan Gramedia. " Dia kemarin bilang, sudah bisa "ngredit" motor dari jerih payahnya b ekerja", terselip nada bangga di balik kata-katanya. "Hidup saya berliku-liku mas," katanya ketika mengetahui saya berasal dari Semarang. "Adik saya ada yang jadi tentara, adik wanita saya jadi dosen di Semarang, dan sata jadi tukang parkir", lanjutnya. Saat dia berdiri, membantu sebuah mobil dia terpincang-pincang berjalan. Seakan bisa membaca jalan pikiran saya, dia berkata",Saya dulu kepala satpam di mal Jambu Dua, hingga kemudian dirasionalisasi ...

"Ditampar" We Jien dari Pulau Penang

Posturnya yang gempal tak mampu menyembunyikan pembawaannya yang jenaka.   Umurnya baru 36 tahun, tapi karena kesuksesannya membangun tim penjualan dari nol, hari itu dia berdiri di depan kami semua, para pemilik agensi sebuah perusahaan Asuransi   Joint Venture terbesar di Asia.   Namanya Wi Jien. Saya, beserta tiga ratusan “pengusaha asuransi” ini diundang untuk mengikuti sebuah Seminar bertajuk “Bridge to Success” yang diadakan di Pulau Penang-Malaysia 10-12 Januari 2015 lalu.   Pulau Penang sendiri adalah bagian dari kesultanan Kedah, yang bisa ditempuh dengan lima jam perjalanan darat dari Kuala Lumpur.   Jangan, jangan bayangkan lima jam perjalanan darat dari Bogor ke Jakarta saat waktu berangkat atau pulang kantor.   Perjalanan lima jam darat dari Penang ke Kuala Lumpur, mirip-mirip perjalanan dari Bogor ke Cirebon via tol Cipali.   Lumayan.   Wi Jien berkantor di sebuah kantor megah dekat kawasan Georgetown, Penang.   Kaw...

Tips & Tricks : Bagaimana Menghadapi Telemarketing Asuransi

Kopi belum lagi tandas dari cangkir saat ponsel berdering, dan di layarnya tertera nomor 0811xxxxxx. Saya pikir teman atau mitra bisnis yang menelepon, saya jawab. Ternyata panggilan telepn itu dari telemarketing sebuah perusahaan asuransi yang menawarkan sebuah produk asuransi. Pernah mengalami hal seperti itu ? Kebanyakan teman-teman yang menerima telepon seperti itu merasa kesal dan terganggu, wajar saja. Tapi jangan salah, belum tentu produk yang ditawarkan itu buruk atau tak bermanfaat. Terkadang karena emosi, kita menjadi tidak rasional menerima penawaran dari para telemarketer. Maka saya mau berbagi tips dan trik bagaimana menghadapi para telemarketer asuransi. PERTAMA . Pastikan anda mengetahui Nilai Ekonomis diri anda sendiri terlebih dahulu. Sebenarnya saya sudah sering cerita soal nilai ekonomis ini, tapi tak apa saya ulang. Nilai Ekonomis adalah Nilai yang “harus disediakan” oleh para pencari nafkah (breadwinner) untuk keluarganya, agar pada saat dia tak ...

Membaca Zaman atau Tergilas Zaman ?

"... saat mendirikan Bukalapak.com dari sebuah garasi kecil, kami percaya bahwa ini akan menjadi besar.  Kami meyakini ekonomi internet adalah masa depan.  Sayang pada waktu itu tidak semua berfikiran seperti itu," demikian jawab Achmad Zaky, Founder dan CEO Bukalapak.com. Sharing Semangat di sebuah Universitas Swasta di Semarang, Oktober 2015 Dan dia tak menyerah, walau saat itu orang berfikir dia aneh : berjualan kok pakai internet, bagaimana bisa, bagaimana akan jadi besar?  Tapi dia jalan terus, get shit done !  Dan seeing is believing, ketika jamannya datang, bisnis (via internet) berkembang, banyak orang mulai berubah pikiran dan melihat internet secara serius. Demikian juga kisah menarik soal Bukalapak, Tokopedia yang kontras dengan cerita jatuh bangunnya Bhinekka.com.  Bhinneka, sudah ada sejak 1996, serta memutuskan masuk ke web tahun 1999.  Tak langsung meledak, karena saat itu "jaman"-nya belum datang.  Tapi kini kisahnya berbeda. ...

Brain Games, eps. Positivity

Di salah satu episode ‘Brain Games” yang ditayangkan National Geographics Channel ditayangkan sebuah eksperimen bagaimana dukungan dari lingkungan berpengaruh pada pencapaian prestasi seseorang.   Dipilih dua orang sebagai sampel. Seorang wanita muda, cantik, berambut pirang yang sama sekali tak bisa bermain basket, dan seorang lelaki, kulit hitam jagoan basket. Di pinggir lapangan, berdiri sepuluh orang “supporter” yang disetel kondisinya oleh periset acara ini.    Pada sesi pertama, dua orang ini diminta melempar bola basket dari arena “three point” dengan mata tak ditutup. Si Wanita, sepuluh kali melempar bola, hanya berhasil dua kali memasukkannya melalui jaring, itupun mungkin kebetulan. Tapi walaupun banyak tak berhasil memasukkan bola, para “supporter” -diminta- menunjukkan sikap positif, memberi dukungan penuh. Lalu, berlanjut ke giliran Lelaki jago basket melakukan hal yang sama. dari sepuluh lemparan, sembilan kali bola nyeplos memasuki jaring....

Cerita Satu Setengah Tahun ...

Bukan, bukan karena sudah merasa hidupnya paling enak lalu saya menulis notes ini. Sama sekali bukan. Justru karena hidup saya sudah kenyang babak belur dihajar aneka cobaan, kegagalan maka saya bisa nulis notes ini. Boleh percaya boleh enggak.   Hari ini, 1 Desember 2015 adalah tepat setahun setengah BHR Agency, agency yang saya miliki serta kelola (bersama Driffaroza Ocha , istri saya) beroperasi. Kemarin, kami merayakan “tutup buku” ala AIA dengan mencatat omzet Rp 4,3 Miliar atau nyaris 3 kali lipat omzet yang kami bukukan tahun 2014 lalu. Keren? nggak juga, karena banyak agency AIA lain yang jauh lebih hebat. Minder? walah bro...nggak akan, justru kami merasa musti lebih baik dan lebih baik lagi.   Tahun 2002 sekeluar dari TEMPO, saya merintis bisnis ternak bebek petelor dan gagal. Lalu “coba-coba” menjadi distributor nata de coco dan membuat tabloid sendiri. Karena bisnisnya coba-coba, maka hasilnya juga coba-coba...alias gagal juga. Balik lagi ke du...

Kursi Baru depan Tivi

Sebagai suami yang kurang romantis, saya terkadang lupa hari ulang tahun istri. Jangankan hari ulang tahun istri, lha hari ulang tahun sendiri saja suka tidak ingat.    Sampai dua minggu lalu, di depan tivi di rumah kami yang kecil, ada perabot baru di depan tivi. Baiklah kita bahas dulu definisi rumah kecil. Rumah kami berdiri di atas tanah 150 meter persegi. Jauh lebih kecil dibandingkan dengan rumah “copycat” kami : Anang dan Ashanty. Coba perhatikan foto saya dan istri saya, mirip mereka kan ? (Mirip, kata saya sendiri). Rumah Anang-Ashanty berdiri di atas tanah 2400 m2, luas tanah rumah saya tak sampai sepersepuluhnya, jadi jelas kan.   Memiliki rumah kecil tentu dibutuhkan kecerdasan berlebih, agar rumah tetap kelihatan lega, tak “sumuk” karena kebanyakan perabot. Kalau “sumuk” artinya kita punya alasan agar menyediakan penyejuk ruangan (baca : AC) di rumah. Bukan, bukannya kami sok rumah hijau, pro lingkungan dan anti pemakaian AC : namun, sederh...