Skip to main content

Posts

PAK MARDI TUKANG BAKSO

Beliau acap lewat depan rumah saya, dengan dagangannya yang menggoda hidung. Bakso Malang pak Mardi. Walau dia asli Juwiring Klaten, yang jaraknya hampir 350 km dari Malang, tapi rasa bakso malangnya -menurut saya- bintang lima, "Ngalam bingits". Pak Mardi asli Indonesia. Ketika harga bensin dan gas naik, dia tak mengeluh atau menyerah. Saat harga daging sapi menggila, dia tak ikut menggila. Ketika berdagang dengan gerobak kehilangan daya jelajahnya, dia bersiasat untuk bertahan, menjual gerobak dan menggantinya dengan rombong yang dipasang di motor yang dibelinya dengan cara mencicil. Dia "menyerap" segala masalah, dan mengembalikan dengan senyum. Senyum optimis orang Indonesia. Pak Mardi punya dua orang anak, seusia anak saya. Yang pertama SMA, yang kedua SMP, sejak lama saya curiga usia pak mardi tak berselilish jauh dengan saya, walau penampilan saya kelihatan jauh lebih muda *kibas rambut, sisiran*. Saat anaknya pertama sakit tipus, da...

MENGENANG BAPAK DI TUGU PANCORAN

Tugu Pancoran Pagi Hari Suwito adalah nama Bapak saya, almarhum, berasal dari desa Gubug, Grobogan-Purwodadi. Sebuah desa kecil, yang nyaris tak terlihat di peta dan hingga kini gagap menghadapi kemajuan jaman. Setiap pagi, jam 03.00 beliau berjalan kaki puluhan kilometer menuju stasiun kereta "terdekat", menunggu kereta barang yang bisa ditumpanginya menuju sekolah di kota Purwodadi. Pulangnya demikian juga. Sepul ang sekolah, beliau masih " angon" kambing ke hutan jati pinggir desa. Cita-citanya hanya satu : menjadi pegawai negeri, karena semua kakaknya berhenti sekolah dan "hanya" menjadi petani di lahan berkapur yang kini sebagian sudah tenggelam oleh air waduk Kedungombo. Di ladang peng-angon-an dia melamun, memiliki rumah tembok yang tak tenggelam seperti rumah-rumah kayu di kampungnya yang dibangun tanpa pondasi. Setiap pagi pukul 03.00 tanpa sarapan, Suwito muda membawa satu dua buku -dan tentu semangat besar- yang dimil...

PENJARA YANG KEJAM DAN DINGIN

Di atas panggung dengan latar belakang kain hitam, dia kelihatan tenggelam dalam kursi roda yang "kebesaran". Sore itu penjara Iron Wood di pinggiran Blythe, California hangat dengan kedatangan pria ini bersama Sir Richard Branson : pemilik Virgin Group. Dia bernama Sean Stephenson. Penderita penyakit "langka" osteogenesis imperfecta, alias sindroma tulang rapuh. Pada hari kelahirannya -ayah Sean bercerita- dia divonis oleh dokter dan therapist yang menolong kelahirannya hanya akan bertahan tak lebih dari 24 jam. Namun 34 tahun kemudian, saat berbicara di antara ratusan "warga binaan" Lapas Iron Wood, dia bilang",Semua dokter yang meramalkan hidupnya bakal pendek, sudah meninggal dunia. "Dan saya adalah satu-satunya dokter yang hidup dari sejak peristiwa ramalan itu",kelakarnya yang disambut tawa audiens. Ya, Sean kini berprofesi sebagai therapist, Penulis buku-buku "Self Help Motivation" dan sekaligus motivato...

BUKAN PITHECANTROPUS ERECTUS

Di luar hujan mulai turun deras, teritik air yang berjatuhan ke kanopi depan nyaring hingga ruang penjurian "Program Mahasiswa Wirausaha 2016". Program ini digagas oleh CDA (Centre of Development and Alumni Affair) IPB, dan tiap tahun berhasil melahirkan wirausahawan-wirausahawan muda yang memiliki ide bahwa "Lulus Kuliah Cari Kerja Itu Kuno". Penyejuk ruangan mulai menghembuskan angin yang makin dingin, menembus kemeja flanel saya ketika anak ini - peserta urutan 13 - masuk ke ruangan sambil membawa tiga dus berisi nasi. Nasi Kotak. Perawakannya tinggi, tak terlalu kurus. Warna kulitnya hitam, seperti saya. "Ini produk saya pak,"katanya memulai presentasi sambil mengangsurkan pada kami masing-masing satu dus nasi yang dibawanya. Di dalamnya ada setangkup nasi, lalapan, sambal, tempe goreng dan sepotong ayam bakar. Di atas tumpukan segala lauk itu, dia letakkan selembar kertas berisi Angka Kecukupan Gizi hidangan itu. Namanya Dam...

CATATAN UNTUK PARA ISTRI YANG MERASA KEHILANGAN UANG BELANJA.

"Ngapain Bapak mempengaruhi suami agar punya asuransi Pak, ntar uang belanja buat saya berkurang buat bayar preminya",sungut istri klien saya ini di ruang tamu, ketika dia melihat saya sibuk mempresentasikan program asuransi untuk suaminya. Sang suami -calon klien saya ini - terdiam seribu basa. Tak bisa berkata-kata. Klien saya ini karyawan swasta, dengan tiga orang anak belum lagi dari remaja. Jabatannya di kantor cukup oke-lah. Istrinya tak bekerja. Dan kami bertemu di ruang tamu rumahnya yang adem, di sebuah kompleks kelas menengah kota Bogor. Hingga kemudian saya tunjukkan sebuah buku yang di sampulnya tertulis "Undang Undang Perkawinan RI, UU No 1 tahun 1974". Saya buka BAB VII, Pasal 35 tentang Harta Benda Dalam Perkawinan. sang istri masih belum mengerti. "Saya bacakan ya Pak dan Ibu ",kata saya. dalam UU Perkawinan bab dan pasal di atas, harta yang timbul akibat sebuah perkawinan ada dua, yaitu Harta Bersama dan Ha...

Zona Nyaman

"Pak, zona nyaman itu apa sih pak. Dan mengapa kita musti keluar dari zona nyaman itu", tanya seorang mahasiswi cantik, berkerudung biru yang duduk paling depan. Menurut saya, zona nyaman adalah ketika kita hidup sudah berada di posisi " paling mager" alias males gerak. Mager itu bisa karena hidupnya sudah terlalu berlimpah, tidak pernah kesulitan. Mager bisa juga karena hidupnya terlalu banyak masalah : sudah sulit membedakan tawakal dan pasrah bongkokan. Kenapa orang b isa berada di zona nyaman? Biasanya, karena dia tidak memiliki "Benchmark" atau... Semacam pembanding untuk tolok ukur. I'm the only one, orang lain cuma numpang lewat. Orang-orang tipe ini selalu tersiksa kalau membuka Facebook. Dia panas melihat prestasi orang lain. Geraaaah.... Jadi bukannya memikirkan membuat sebuah karya atau aktivitas untuk membuat prestasi yang lebih baik, tapi bawaannya cuma "nge-left" (alias ngiri). Sulit menerima keberh...

Namanya Lee ...

Namanya Lee. Usianya 24 tahun, berdiri melawan hawa dingin dan angin bersuhu 13 derajat celcius di depan Pier 5 Pelabuhan Central-Victoria Harbour Hongkong. Di a tekun menemui setiap orang yang berada di antara keramaian AIA European Carnival sore itu, pukul 15.00 waktu HKSAR. Lee adalah adalah agen asuransi, sama seperti saya. Saya, orang tropis yang biasa kena sinar matahari, saat matahari enggan datang dan sisa musim dingin belum selesai seperti ini, jelas tak tahan. Dua rangkap baju harus dikenakan untuk menahan dingin. Tapi tidak dengan Lee. Dia tekun hampiri satu demi satu orang, dia sampaikan niatnya untuk meyampaikan kuesioner. Dan dia lakukan itu sejak pukul 11 siang. Sudah 4 jam dia berdiri, menahan angin kencang yang dingin menggigit tulang, dilakukannya itu setiap hari. Malam minggu, pukul 19.30 waktu HKSAR saya menemukannya masih berdiri, menebar kuesioner dan bertanya-tanya. Lihatlah kita, baru kena gerimis saja langsung masuk angin, baru ...