Skip to main content

MENGENANG BAPAK DI TUGU PANCORAN

Tugu Pancoran Pagi Hari
Suwito adalah nama Bapak saya, almarhum, berasal dari desa Gubug, Grobogan-Purwodadi. Sebuah desa kecil, yang nyaris tak terlihat di peta dan hingga kini gagap menghadapi kemajuan jaman.

Setiap pagi, jam 03.00 beliau berjalan kaki puluhan kilometer menuju stasiun kereta "terdekat", menunggu kereta barang yang bisa ditumpanginya menuju sekolah di kota Purwodadi. Pulangnya demikian juga. Sepulang sekolah, beliau masih " angon" kambing ke hutan jati pinggir desa. Cita-citanya hanya satu : menjadi pegawai negeri, karena semua kakaknya berhenti sekolah dan "hanya" menjadi petani di lahan berkapur yang kini sebagian sudah tenggelam oleh air waduk Kedungombo. Di ladang peng-angon-an dia melamun, memiliki rumah tembok yang tak tenggelam seperti rumah-rumah kayu di kampungnya yang dibangun tanpa pondasi.

Setiap pagi pukul 03.00 tanpa sarapan, Suwito muda membawa satu dua buku -dan tentu semangat besar- yang dimilikinya berangkat ke kota. Belajar supaya bisa menjadi pegawai negeri. Hingga nasib membawanya ke Semarang, ikut tes dan diterima di Kejaksaan, dan memiliki rumah tembok. Rumah tembok yang menjadi album masa kecil kami, anak-anaknya. Rumah tembok yang tak tenggelam di tanah berkapur. Rumah tembok yang sederhana tempat dia menyaksikan anak-anaknya mentas "jadi orang" dengan doa dan perjuangannya.

Di bawah Patung Pancoran, pukul enam pagi, saya mengenang Bapak. Saya mengingat pesannya ",Jadilah orang yang besar karena tanganmu sendiri, bukan karena jasa atau belas kasih orang. Bilapun itu harus kau kejar dengan bangun jam tiga setiap pagi. Karena perjuanganmu akan dicontoh oleh anakmu. Jadilah orang yang punya prinsip, walau nanti kamu kelihatan berbeda".

Di bawah Patung Pancoran saya mengenang Suwito muda, mengejar kereta barang ntuk sebuah cita-cita yang berbeda.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U...

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya). Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :   http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.html Namun, kisah ibu nasabah (y ang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman. Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi. Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit L...

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...