Skip to main content

JALUR MRT DAN LELAKI BERISTRI SOSIALITA

Lelaki ini seorang suami dari istri yang sosialita, di mana ada arisan di situlah sang istri ada. Suatu hari kami bertemu di sebuah kedai kopi sederhana, hingga dia bertanya.

"Mengapa aku musti punya Program Asuransi, apakah HARUS?".

Lalu saya bercerita. Pada proyek pembangunan MRT di Jakarta, semua petinggi berkumpul. Mereka sedang berdiskusi, bagaimana bila jalur MRT yang berada di bawah Jl. Thamrin-Sudirman terendam banjir?

Karena ini terkait Manajemen Risiko, mereka memanggil ahilnya. Dari para petinggi mengusulkan beberapa ide, salah satunya membeli polis asuransi untuk meng-cover kerugian materiil bila sampai jalur MRT itu terendam banjir.

Ahli manajemen risiko menghitung bersama aktuaris perusahaan asuransi hingga keluarlah sebuah proposal yang berisi angka Premi yang harus dibayar perusahaan pengelola MRT.
Angka yang diajukan oleh Perusahaan Asuransi membuat mata semua tim manajemen MRT terbelalak matanya, saking mahalnya. Mengapa?

Kejadian banjir di Jakarta, terutama di sepanjang Blok M-Sudirman-Thamrin-hingga Kota adalah kejadian dengan FREKUENSI relatif TINGGI, kemungkinan terjadinya besar dan dampaknya bila benar jalur MRT terendam banjir, secara materiil tentu akan sangat besar sekali.

Maka, dari hasil analisa itu : Strategi memiliki Asuransi bukanlah strategi manajemen risiko yang tepat. Maka, dari hasil analisa itu, manajemen pengelola MRT mengalihkan uang rencananya yang akan dibayarkan premi asuransi dengan membangun gorong-gorong raksasa dan pompa-pompa untuk menghindarkan terowongan terendam banjir.

Itu adalah tindakan "Risk Avoidance".

"Lalu apa hubungannya, cerita MRT-mu sama aku, Bas?",tanyanya.

"Kalau kamu tanya apakah kamu harus memiliki Asuransi Jiwa, maka berdasar cerita di atas jawabannya adalah TIDAK. Tapi ...",kata saya menggantung.

"Tapi apa, Bas",tanyanya penasaran.

Sambil saya sodorkan gambar di bawah, saya bilang ",Strategi Risk Financing dengan Asuransi hanya cocok untuk risiko dengan FREKUENSI RENDAH dan DAMPAK EKONOMIS TINGGI".
Contoh, kematian. Risiko kematian tak bisa dihindari. Itu bagian dari takdir. Artinya kapanpun dia datang harus siap kita (dan keluarga) kita terima. Yang harus disiapkan adalah Strategi paska kematian. Bagi yang mati, masalah di dunia sudah selesai. Tapi buat yang ditinggalkan? Itu mengapa semua agama (bahkan adat) mengatur tentang Hukum Waris.

"Ambil contoh kamu saja. Tiap bulan kamu memberi istrimu belanja untuk hidup dan gaya hidupnya Rp 20 juta per bulan. Ketika kamu meninggal, urusanmu dengan dunia sudah selesai. Tapi istrimu harus tetap "mendapat suplai" Rp 20 juta per bulan", Lanjut saya.

Dia manggut-manggut.

Untuk bisa hidup dengan uang Rp 20 juta/bulan, ada beberapa alternatif
SATU, kamu mendidik istrimu supaya bisa bekerja sebaik kamu dan memiliki penghasilan Rp 20 juta per bulan sejak saat kamu nanti "jatuh tempo".

DUA, kamu mulai sekarang mulai menabung untuk mengumpulkan DANA ABADI. Dana Abadi ini kelak targetnya besarnya sekitar Rp 4,8 Miliar, istrimu tinggal masukkan ke dalam deposito (asumsi bunga 5% per tahun) dia akan tetap dapat hidup dengan Rp 20 juta/bulan.

Cara satu dan dua bisa kamu lakukan bila kamu yakin umurmu panjang, waktunya cukup minimal tahu kapan ajal kita tiba. Bila tidak, saranku kamu bisa ambil alternatif :

TIGA, kamu bisa ikut program "jimpitan", bergotong-royong dengan para suami se-Indonesia yang pengen punya tujuan yang sama : meninggalkan warisan yang layak untuk keluarganya. Dan program gotong-royong itu benama asuransi.

Kematian dan sakit adalah kejadian dengan frekuensi kejadian rendah, namun dampak ekonomisnya besar banget. Berbeda dengan risiko ekonomi jalur MRT terendan banjir yang bisa di-“avoid”, risiko (ekonomi) karena kematian : tidak.

Jadi, mau pakai asuransi atau tidak, cukup pastikan ketika ajalmu tiba (kapanpun itu), kamu meninggalkan istri dan anakmu tetap sejahtera. Bisa tetap menjadi sosialita, bukan sengsara.

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...