Skip to main content

CONTROL the CONTROLABLE

Tiga puluh tahun lalu (1990-1993) di sinilah tempat saya "melarikan diri" dari kamar kos yang sempit dan panas saat siang hari. AC nya dingin dan bukunya banyak (sekali). Inilah surga dunia. Sejak itu saya selalu memimpikan punya perpustakaan sendiri.

Hari ini saya datang bersama adik kelas, yang teman satu angkatannya saya opspek di danau LSI dekat perpustakaan ini.

Kami mengantar anak survey lokasi ujian masuk Perguruan Tinggi.

Dulu, uang SPP kami Rp 125ribu per semester. Kini uang kuliah mereka (di PTN) sekitar Rp6-8 juta per semester. Itulah Inflasi.

Dulu, kami tak perlu susah payah berjuang ikut ujian masuk, karena jalur penerimaan tanpa tes hanya berbekal nilai rapor. Sejak tahun ini selain nilai rapor, pemerintah mengutamakan anak dari keluarga tak mampu untuk diterima. Itulah Kompetisi.

Dulu, tak perlu ada jalur-jalur mandiri untuk masuk perguruan tinggi negeri. Sekarang boleh ikut seleksi masuk jalur mandiri, tapi harus siap minimal Rp25 - 80 jutaan untuk uang pangkalnya. Itulah kebijakan atau Policy.

Inflasi, Kompetisi dan Policy adalah hal-hal yang tak bisa kita kendalikan (uncontrolable).

Hal yang bisa kendalikan (controlable) adalah mengajari anak bahwa PTN bukanlah melulu penentu kesuksesan, Mengajari mereka soal Perencanaan Keuangan karena hal sama akan berlaku pada anak-anak mereka, serta bekerja keras mengambil semua peluang (halal) untuk meraih rezeki.

Jangan pusing mengontrol hal yang tak bisa kita kontrol. Aturlah hal yang bisa kita atur : demikian kata quote bijak di Internet.

Saya nurut saja...

Comments

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...