Skip to main content

PUNGGUK MERINDUKAN CUAN

"Mas Basri, kenapa ya sepertinya kinerja para manajer investasi di perusahaan asuransi tak bisa sebagus manajer investasi tempat aku beli resadana. NAV (Nilai Aktiva Bersih) Fund Ekuitasku di Unitlink nggak tumbuh dan manajer investasinya kayaknya nggak mau ngubah komposisi saham yang ada di portfolio-nya. Mereka nggak kerja apa ya. Rugi saya punya Unitlink", Kata seorang teman, seorang agen asuransi.

Saya terus terang sedih mendengarnya. Kenapa? karena TAK SEHARUSNYA seorang agen asuransi memandang unitlink sebagai instrumen investasi.

Saya lebih sering menggunakan teori Satpam kalau berbicara soal produk Unitlink (baca : https://www.facebook.com/basri.adhi/posts/10224057518852423) dan postingan di Yutub : https://youtu.be/qRskuQmb9ZY

Kembali ke pertanyaan di atas, lalu ada investasi di Unitlink buat apa sih? 

Investasi dalam produk Unitlink dimaksudkan untuk "nombokin" bayar biaya-biaya asuransi ketika biayanya naik, sementara kita biaya preminya tetap. Ya, karena janji produk Unitlink hanya dua : ada Uang Pertanggungan dan Premi Tetap sepanjang Masa Asuransi. 

Sementara biaya asuransi, makin tua kita, makin naik. Itu gunanya investasi dalam Unitlink untuk nombokin kekurangan pembayaran tadi, supaya nasabah "peace of mind" nggak mikirin biaya premi yang kayak jalur gadog ke Cisarua : naik terus.

Lalu kenapa kinerja manajer investasi di perusahaan terkesan "slow down" tidak segesit manajer investasi yang mengelola reksadana, misalnya?

PERTAMA. Karena ada rambu-rambu atau PROTOKOL yang membatasi  Manajer Investasi di Perusahaan Asuransi.  Mereka harus memastikan asset investasi yang dikelolanya adalah secara jangka panjang "aman" namun juga tetap "grow". Maklum ini duit nasabah yang nanti akan dipakai buat nombokin bayar biaya-biaya asuransi. Dengan rambu tersebut, misal assetnya berbasis ekuitas, Manajer Investasi perusahan asuransi tak bisa ugal-ugalan jual beli saham, yang dipilih pasti saham "bluechip" yang terbukti secara jangka panjang stabil.

Karena kalau sembarangan, pada kondisi pasar volatil, itu premi nasabah bisa lapse/batal semua karena saldo investasi ambles karena kesalahan strategi investasi. Fatal.

KEDUA. Asset yang dikelola sedemikian besar, namun instrumen investasi yang mau dibeli terbatas. Bayangkan begini : anda mendapat pinjaman modal untuk bikin warung kelontong, sebesar Rp 1 Milyar. Lalu ternyata ketika anda "kulak-an" ke grosir, barangnya yang dibeli nggak ada (bisa habis, bisa memang tak ada), sehingga modal Rp 1 Milyar hanya bisa dibelanjakan Rp 400juta. Lalu kemana sisa Rp 600juta? Nggak mungkin disimpan dalam bentuk tunai atau disimpan di bank, karena boro-boro berkembang, dia akan habis digerus inflasi.

Nah, hal yang sama terjadi pada Manajer Investasi perusahaan asuransi. Ada satu perusahaan asuransi, mengelola satu fund berbasis ekuitas/saham dengan dana kelolaan Rp 16 Trilyun. Idealnya itu dibelikan beraneka rupa saham agar uang itu berkembang, tentu dengan mengikuti rambu/protokol di point pertama. Namun, di emiten di BEI yang memiliki saham "bluechip" tak sampai 10% dari total emitennya (yang hanya 700 emiten itu). Duit banyak, tapi barang yang mau dibeli tak ada... Atau lebih pasnya tak leluasa.

KETIGA. Kenapa dana di satu fund bisa puluhan trilyun? salah satu kontributor "kesalahannya" adalah leader dan agen asuransi. Karena tak belajar atau mendalami prinsip Investasi dan Profil Risiko Nasabah, maka tiap kali ada nasabah mengambil produk unitlink, investasinya langsung 100% diletakkan di fund itu. Kenapa? karena si agen hanya tahu Fund itu, dan leadernya juga tak pernah bisa ngajarin (alias sama nggak ngertinya...).

Jadi sebagai Manajer Investasi di Perusahaan Asuransi memang tak mudah. Di satu sisi dia pengen "aman terkendali" karena ada kepentingan dana nasabah aman, di sisi lain dia berhadapan dengan nasabah yang beranggapan bahwa Unitlink adalah investasi yang harus tumbuh pesat sebagaimana reksadana. 

Maka, kalau memikirkan itu, saya balik lagi sedih. Karena berharap untung besar dari hasil investasi di Unitlink itu ibarat Pungguk merindukan Cuan.

Comments

  1. Saya jhoni laksono....saya ingin menjual ginjal saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jhoni alaksono...saya mau menjual ginjal saya hubungi 082298020663

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

DEWASA

Dia lahir tanggal 12 Agustus. Mengapa 12 Agustus? Karena tanggal 13 Agustus 1999 jatuh pada hari Jumat. Kami tak pengen, anak ini lahir pada "Friday the 13th". Rada tahayul, namun karena privilege lahir dengan proses cesar, kami pakai privilege itu. Mengapa melalui proses operasi cesar? Karena lehernya terlilit tali pusatnya sendiri. Dan, kami menamakan anak ini Alifa. Sebagai anak pertama, dia sudah melalui tiga tahap kehidupan kami : tahapan karir moncer, tahapan perihnya merintis usaha dan tahapan berdamai dengan kehidupan. Foto ini diambil tahun 2010, saat usianya 11 tahun. Masih SD. Jaman periode dua kehidupan, ketika kami  "menggendong" booth jualan burger dan pop soda keliling dari satu event ke event lain. Tugas Alifa : menuang minuman pop soda kepada pembeli.   Yang sulit adalah mendidik anak untuk tidak gampang gengsi. Karena "penyakit" gampang gengsi itu konon terbawa sampai tua, mau susah atau senang hidupnya. Beberapa kali, ketika kami jualan,...

HAK ASUH vs PERWALIAN

Saya baru saja beres menonton podcast antara seorang artis yang memiliki channel podcast dengan ayah dari selebiti yang meninggal karena kecelakaan di tol bersama suaminya beberapa waktu lalu. Di podcast ini mereka berbincang soal Hak waris, Hak Asuh dan Perwalian. Yang menurut saya ini menjadi gambaran bahwa Literasi Hukum Waris kita memang masih sangat rendah. Pertama, soal menentukan siapa Ahli Waris dari si selebriti ini. Dalam diskusi tidak pernah disebut konteks pembagian warisnya memakai hukum waris apa, namun terlihat bahwa si ayah ingin mendapatkan harta mendiang anaknya - dengan bolak balik menyebut nama adik si almarhum sebagai ahli waris yang berhak. Sedangkan si selebriti memiliki anak yang masih hidup (dan kebetulan laki-laki). Menurut Hukum Perdata, adik almarhum belum ada hak demikian juga menurut Hukum Islam : karena masih anak ada lelaki almarhum yang lebih berhak. Kedua, soal istilah Hak Asuh dan Perwalian. Ini juga "kisruh" karena Hak Asuh dan Perwalian ad...

ADE dan PARENTING ALA-ALA

Dengan kesadaran penuh bahwa pasti ada orang yang tidak sepakat dengan "konsep parenting ala-ala" kami ini, tidak mengapa. Saya tuliskan ini untuk berbagi pengalaman saja. Ada pelajarannya silakan diambil, tak cocok ya dibuang saja. Namanya Ade. Dia adalah pengasuh anak-anak saya di periode tahun 2002 - 2007. Tahun 2007 Ade mengundurkan diri karena menikah. Ade ikut keluarga kami sejak kami masih tinggal di rumah pertama kami di daerah Ciampea Bogor, dan menjadi bagian sebagaimana keluarga kami sendiri. Rumahnya tak jauh dari Kompleks kami tinggal waktu itu. Tahun 2002, tak lama setelah -Diva- anak kedua kami lahir, kami pindah rumah ke Bogor Kota. Ade tetap ikut dan pulang ke rumahnya di Ciampea dua minggu sekali. Masa kecil Diva -setidaknya hingga dia usia 5 tahun- ditemani oleh Ade. Jaman dulu belum lazim seorang "nanny" punya handphone, karena masih mahal. Jadi sesekali saya dan istri yang bekerja, hanya mengecek melalui telepon. Kok bisa (atau ada yang bilang :...