Skip to main content

Posts

BERAPA BAGIAN SAYA ?

Ini adalah salah satu kasus yang sedang saya tangani. Sebut saja kasus Ibu “X”. Postingan Ini sekaligus menjawab banyak sekali pertanyaan, bagaimana sih caranya menghitung harta waris menurut Hukum Waris ? Ibu X (beragama Islam) baru saja “ditinggal” oleh suaminya. Dan sebagai muslimah yang taat, beliau datang kepada saya untuk minta dihitungkan berapa porsi waris untuk Ahli Waris almarhum suaminya menurut Hukum Waris Islam. Beliau memiliki tiga orang anak, satu lelaki (AL) dan dua perempuan (AP). Ketika meninggal, kedua orangtua almarhum suaminya masih hidup, sehingga memiliki hak. Mengapa ini buat ibu X penting mengetahui ini? Karena dari pengajian yang diikutinya, ustadzah yang mengajar selalu menekankan pentingnya membagi warisan menurut hukum waris (Faraidh). Karena di dalam harta waris ada hak anak yatim (cq. anak-anaknya) yang tidak boleh dilanggar. Itu ada di dalam kitab suci Al Quran, terutama surat An Nisaa ayat 7-14. Tetapi mengapa masih banya...

PECI ATAU TOPI?

Dengan tergesa, setelah memarkir X-trail putihnya, ibu muda ini bergegas masuk kantor saya. Seperti biasa, Rindy, sekretaris kami menyilakan si Ibu duduk di depannya. Namanya ibu Manurung. Dari namanya saya yakin ibu ini tidak berasal dari Boyolali. Suaminya baru saja sembuh dari sakit dan baru juga keluar dari sebuah Rumah Sakit di Bogor. "Mbak, saya mau tanya. Ini saya punya tiga polis asuransi, tapi yang mengganti biaya perawatan hanya dari asuransi ini. Dan nomboknya juga lebih dari 50%",katanya agak bersungut-sungut. Wajahnya suntuk. Saya lihat Rindy memeriksa tiga polis ibu Manurung, dari tiga perusahaan Asuransi yang berbeda. Semua atas nama suaminya, baik tertanggung maupun pemegang polis. "Ibu, ini dari tiga asuransi ibu, hanya satu yang ada asuransi kesehatannya. Dua sisanya tidak ada", Terang Rindy. "Wah, mana mungkin. Justru dua asuransi yang itu saya bayarnya mahal lho. Rp 60 juta per tahun", Sanggahnya. Rindy den...

HIDUP PADA DUA SKENARIO

"Polisku sudah banyak, bertumpuk tuh. Buat apa lagi aku musti punya Polis baru dari kamu", Demikian kata Koh Fulan (sebut saja namanya begitu), calon nasabah Dini, salah satu team di agency kami.  "Bagus kalau begitu , Koh", Jawab Dini. Koh Fulan kebingungan dengan jawaban itu. "Sini saya bantuin bacain manfaat semua polis yang Koh Fulan sudah miliki", Lanjut Dini. Satu persatu polis di buka. Inilah sebenarnya tantangan di Industri Asuransi. Tantangannya bukan pada nasabah yang belum memiliki kesadaran ber-asuransi. Tantangannya justru pada pelaku industri (cq. Agen Asuransi, bahkan Leader-nya) yang kurang kompeten dalam bekerja. Banyak dari pelaku industri hanya sekedar mengambil keuntungan sesaat, komisi besar, tanpa mengindahkan kebutuhan nasabah. Koh Fulan memiliki 12 polis Asuransi dari berbagai perusahaan. Tapi tumpang tindih "tidak genah" alias acak-adul. Satu tahun dia mengeluarkan bujet Rp 280 jutaan untuk membayar premi asuransi dengan ...

BUKAN UNTUNG APALAGI RUGI

Pak C mengkontak saya malam kemarin, jauh dari Singkawang. Nasabah ibu Liana Juliani ini “menghadapi” masalah yang yang banyak dihadapi calon nasabah lainnya : ketika saya ditawari Produk Asuransi Unit Link : musti bayar seumur hidup atau jangka waktu pendek saja (misal 10 tahun). Banyak agen asuransi “newbie” yang menawarkan produk unit link yang seharusnya masa pembayarannya panjang namun bilang “,Cukup bayar 10 tahun saja”. Begini, sambil saya gambar grafik sederhana, setiap produk disusun dengan fiturnya sendiri. Perhitungan orang aktuaria -yang jago statistik dan matematika- tidak sederhana. Sebuah produk disusun bayar seumur hidup, ya bayarlah seumur hidup. Kalau mau bayar 10 tahun, cari produk yang memang masa bayarnya 10 tahun. “Saya rugi dong pak”, kata pak C. Untung dan rugi, tergantung tujuan akhirnya. Coba perhatikan gambar, Produk Unit Link dirancang supaya memberikan premi tetap sepanjang masa perlindungan. Itu sebenarnya fungsi investasi dalam produk unit link. Antara ...

KABAR BAIK ATAU KABAR BURUK?

Ini adalah potongan berita yang saya baca dari Kompas edisi Senin 5 November 2018. Kalau ditanya ini kabar baik atau buruk, maka saya bilang ini adalah kabar baik. Lho kok? Pernah kan didatangi agen asuransi? Kebanyakan dari mereka datang menawarkan PRODUK (Product Push), sehingga ketika ditanya agak sedikit lebih detil soal konsep, mereka gelagapan. Sebagian lagi dari agen asuransi datang menawarkan INVESTASI. Agak rancu, mereka ini datang sebagai Wakil (Perusahaan) Manager Investasi atau Perusahaan Asuransi? Lebih hebatnya lagi, beberapa datang dengan tawaran INVESTASI DIJAMIN, alias produk investasi dengan hasil investasi dijamin. Sudah dengar masalah yang membelit PT AJB Bumiputera dan PT Jiwasraya (Persero) belakangan ini ? Intinya kedua perusahaan asuransi itu kesulitan membayar klaim nasabah. Khususnya Jiwasraya, terlambat membayar BUNGA polis yang per tanggal 10 Oktobet 2018 besarnya sebesar Rp 802 Milyar. Sebagian besar datang dari produk JS Proteksi Pl...

WHAT IF... WHAT IF

Setiap hari kita "minta" -dalam bentuk doa- diberikan : Panjang Umur, Sehat selalu, kerja lancar, pensiun banyak duit, anak-anak tidak punya masalah keuangan. Lalu kita bekerja, berusaha. Intinya, kita SIAP SUKSES. Permintaan itu harapan yang dipanjatkan dalam doa. Tapi urusan mengabulkan doa, menentukan hasil usaha adalah "Hak Prerogatif" Tuhan. Bagaimana kalau harapan yang kita panjatkan, usaha yang kita lakukan belum memenuhi "rencana dan kualifikasi" Tuhan? Maka sebaiknya kita memiliki RENCANA cadangan. Repotnya, banyak orang tidak siap dengan rencana cadangan itu. Siap SUKSES, namun tidak siap GAGAL. Biasanya orang model begini akan mencari kambing yang warnanya hitam. Menyalahkan lurah, camat, menteri, presiden sampai... Tuhan ! Maka, ada beberapa orang yang memiliki profesi sebagai PEMBANTU : membantu orang lain membuat perencanaan. Membantu melihat alternatif-alternatif, Bicara "What If...What If". Walau me...

MITIGASI

Selesai menjenguk teman saya yang sudah dua minggu terbaring sakit karena kanker hati, kami mengajak anak-anak berdiskusi. "Apa yang terjadi pada Om ABCDE bisa juga terjadi pada Bapak",kata saya pada anak-anak. Mereka kelihatan kaget. "Tapi tak usah takut, Bapak sudah siapkan Strategi Mitigasi untuk kalian berdua", lanjut saya. "Apa itu Strategi Mitigasi, pak",Tanya si Sulung. Strategi Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Bencana terbesar yang terjadi pada sebuah keluarga adalah ketika pencari nafkah utamanya meninggal dunia. "Bapak pasti meninggal dunia, cepat atau lambat, sekarang atau besok-besok. Maka Bapak sudah siapkan segala sesuatunya supaya kalian tetap bisa sekolah dan hidup layak seperti sekarang", Terang saya. Bagaimana strateginya? Sederhana. Bapak tidak siapkan untuk kalian Warisan d...